JAKARTA, RSONLINE - Inflasi atau kenaikan harga yang terjadi di Indonesia, diukur dari berbagai macam komoditas atau kebutuhan masyarakat. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara menjelaskan, indikator terjadinya inflasi diukur dari 800 produk dari 82 kota di Indonesia.
“800 produk ini yang dimonitor harganya. Apabila terjadi kenaikan harga yang cukup tinggi maka dapat memicu inflasi,” ujarnya saat pelatihan jurnalis ekonomi se-Indonesia gelombang pertama di Jakarta, Senin (3/10).
800 komoditas tersebut diantaranya beras, cabe, bawang dan berbagai macam komoditas lainnya. Namun yang mayoritas penyebab inflasi di Indonesia adalah tanaman pangan.
“Kenapa tanaman pangan seperti cabe, bawang menjadi komoditas yang memicu inflasi karena komoditas pangan adalah komoditas yang paling banyak dicari orang dalam hal ini masyarakat Indonesia,” jelasnya.
Olehnya itu, Bank Sentral Indonesia atau Bank Indonesia menjalankan fungsinya menjaga kestabilan inflasi. BI membentuk TPID atau Tim Pengendali Inflasi Daerah untuk menjaga kelancaran karena kelangkaan stok dapat memicu terjadinya kenaikan harga atau inflasi.
“Inflasi inilah yang berimbas kepada nilai kurs rupiah. Olehnya itu kalau kita ingin menjaga nilai rupiah maka kita harus menjaga inflasi dan juga kurs tetap dalam posisi stabil,” bebernya.
Sementara itu, di 2016 ini pihaknya menargetkan inflasi nasional berada diangka 3,5 persen plus minus 1 persen. Dengan komponen pangan sebagai pemicu inflasi. Sedangkan pada 2017 mendatang, Bank Sentral melalui Deputi Gubernur Senior mengatakan risiko inflasi bersumber dari rencana kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) untuk RT 900 VA. (m5/b/aji)