Kisah Raden Ajeng (R.A.) Kartini bukan sekadar sejarah. Berkat jasanya, beliau telah memperjuangkan kesetaraan hak bagi perempuan untuk memperluas
perannya dalam berbagai aspek kehidupan.
Setiap 1 Juni diperingati Hari Lahir Pancasila. Hari Lahir Pancasila saat
ini dapat menjadi momentum bangkitnya perempuan untuk menjalankan sila kelima
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga kesetaraan
perempuan Indonesia untuk dapat terus berkarya di segala bidang.
Sudah saatnya perempuan Indonesia tampil dan mengisi hidupnya dengan
berbagai prestasi gemilang. Bukan hanya bagi dirinya sendiri atau
keluarga, tapi juga untuk negara dan bangsa. Keterlibatan perempuan saat ini di Indonesia sudah cukup bagus. Hal tersebut dapat dilihat dari banyak peran penting dipegang oleh perempuan baik dalam
pemerintahan maupun di beberapa perusahaan besar.
Bahkan, pemerintah
kita juga sangat menghargai keberadaan perempuan dengan adanya Undang- Undang Kesetaraan Gender dan dengan diberlakukannya kuota perempuan minimal 30 % di berbagai bidang. Salah satunya melalui parlemen.
Salah seorang puteri daerah Sulawesi Tenggara, Dra. Hj. Tina Nur Alam, MM
(TNA) merupakan politisi perempuan yang ikut dan turut andil dalam
menjalankan undang undang kesetaraan gender dengan cara tampil sebagai Anggota DPR RI perempuan yang pertama di Sulawesi Tenggara. Bahkan TNA mampu meningkatkan sumber daya manusia di Sulawesi Tenggara dengan menyalurkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) kepada masyarakat Sulawesi
Tenggara agar berdaya saing.
Cerita TNA merefleksikan satu dari ratusan juta perempuan di Tanah Air yang merasakan hasil perjuangan R.A. Kartini
hingga detik ini.
Perempuan masa kini yang lebih berdaya dan mampu berkarya sambil memberikan dampak nyata. Namun, jalan menuju kesetaraan masih panjang. Banyak perempuan yang masih merasakan
ketimpangan.
Mari perempuan- perempuan Indonesia jadilah yang kuat, bermartabat,
dan berintegritas dalam menjadikan Indonesia lebih maju dengan peranan kita perempuan-perempuan hebat Indonesia.
Perempuan harus mengevaluasi diri, bertansformasi, menumbuhkan sikap
melakukan perubahan, dan meningkatkan kapasitas diri agar bisa
menghapus anggapan bahwa perempuan adalah makhluk yang emosional,
lemah, dan tidak konsisten.
Majunya negara Indonesia serta Sulawesi Tenggara dan anak-anak masa depan bangsa ada di tangan para perempuan tangguh yang cerdas bermartabat.