Mereka berangkat dengan senyum dan salam. Tapi yang kembali hanya nama yang dibacakan di daftar wafat. Hanya foto yang dibingkai duka. Hanya air mata yang jatuh dalam diam.
Berapa banyak anak yang menanti ayahnya pulang membawa kisah Makkah, namun justru menerima jenazah?
Berapa banyak istri yang menyiapkan pelukannya, tapi hanya bisa menabur bunga di nisan?
Sudah saatnya kita menata ulang prioritas. Bahwa haji bukan hanya soal birokrasi, kuota, atau fasilitas. Tapi soal jiwa-jiwa yang titipannya agung di sisi Allah. Mereka berhak untuk disiapkan. Disayangi. Dilindungi. Bukan hanya di tanah suci—tapi sejak langkah pertama persiapan di tanah air.
Doa yang Menjadi Janji
Di sela air mata Tanah Haram, mari kita rendahkan hati:
Bahwa setiap jiwa yang berangkat adalah amanah, bukan sekadar nama di paspor.Bahwa setiap kematian di Tanah Suci adalah pengingat: masih banyak yang harus kita benahi.
Ya Allah…
Muliakan hamba-hamba-Mu yang Engkau panggil di tempat suci-Mu.
Jadikan kematian mereka sebagai syahid, dan bukakan pintu surga tanpa hisab.Dan untuk kami yang ditinggal—sadarkan kami bahwa menjaga mereka bukan sekadar tugas… tapi ibadah yang Kau titipkan.
Bimbing kami agar tak hanya mengantarkan jemaah dengan seremonial,
tapi dengan cinta, kesiapan, dan keikhlasan.
Agar setiap jemaah yang berangkat bukan hanya berniat mabrur,
tetapi pulang dalam keadaan sehat, selamat, dan diridhai-Mu.
Catatan kecil haji 2025 secara umum sudah sangat sukses terima kasih atas kerja tulus semua petugas haji dengan semua stake holder kementerian agama , tulisan ini ditulis dengan air mata yang tak kasat mata—namun terasa di dada.
Sebagai bentuk refleksi dan tangisan hati, agar haji tak hanya menjadi ritual besar...tetapi jalan selamat menuju cinta Allah, dengan tubuh yang kuat, dan jiwa yang siap menyambut panggilan suci.
Artikel Terkait
Kemenag Terus Cari Solusi Dinamika Penyelenggaraan Haji
Menag Sebut Banyak Negara Kagum pada Kedisiplinan Jemaah Haji Indonesia, Saudi Beri Penghargaan Khusus