Jakarta,RakyatSultra.id- Kasus keracunan massal siswa akibat mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) terus berjatuhan di berbagai daerah di Indonesia. Sejak program ini bergulir, ribuan orang tercatat sudah keracunan.
Kasus terbaru adalah keracunan massal siswa di Kecamatan Cipongkor, Bandung Barat pada Rabu (24/9). Ratusan siswa dari berbagai jenjang pendidikan menjadi korban.
Akibat keracunan massal MBG ini, Puskesmas Cipongkor dipenuhi pelajar yang keracunan menu MBG. Jumlah korban yang tercatat sampai siang hari ini sebanyak 220.
Para siswa yang keracunan itu mulai berdatangan pada pukul 13.30 WIB, siswa dari berbagai jenjang berdatangan untuk mendapat perawatan dari petugas medis
Akibat keracunan massal yang terus terjadi itu, sejumlah pihak turut menyoroti. Selain menyoroti kondisi siswa yang mengalami keracunan, sejumlah tokoh juga menyoroti tajam respons pemerintah yang terkesan menyepelekan kasus tersebut.
Mantan Sekretaris BUMN, Muhammad Said Didu turut angkat suara terkait program MBG yang banyak mengakibatkan keracunan massal siswa. Namun, Said Didu menyoroti respons Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana yang terkesan mengecilkan angka keracunan yang terjadi.
"Bapak ini selalu menggampangkan korban thdp rakyat," tulis Said Didu merespons pernyataan Dadan Hindayana yang menyebut BGN sudah membuat 1 miliar porsi MBG, 4.711 alami gangguan pencernaan.
Dadan Hindayana yang merespons keracunan massal di berbagai daerah hanya disebut sebagai bentuk gangguan kesehatan atau gangguan pencernaan. Pernyataan ini dianggap Said Didu menggampangkan kondisi kesehatan siswa yang keracuna massal.
Betapa tidak, para siswa yang mengalami keracunan massal itu sebagian ada yang kondisinya cukup parah, yakni sulit bernapas hingga kram otot. Sejumlah kalangan bahkan mulai khawatir akan potensi adanya korban jiwa akibat program MBG tersebut.
Sebelumnya diberitakan, BGN telah mengambil langkah tegas terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan menghentikan pelayanannya.
Ketua BGN, Dadan Hindayana menegaskan penghentian dilakukan sampai seluruh fasilitas dan operasional SPPG yang bersangkutan sesuai dengan standar prosedur operasional (SOP) yang telah ditetapkan.
“Terkait berbagai kejadian di tanah air, kami tentu saja BGN masih sangat menyesalkan kejadian ini masih ada dan kami prihatin, tetapi kami sudah bisa melihat bahwa sebagian besar kejadian ini karena munculnya SPPG baru, dan rata-rata SPPG baru ini memang butuh pembiasaan,” kata Dadan di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Senin (22/9).
Dadan memaparkan, dari hasil pemantauan pihaknya mencatat sekitar 4.711 porsi makan yang menimbulkan gangguan kesehatan. Angka ini tersebar di tiga wilayah, dengan kasus terbesar di Jawa sebanyak 2.606 orang, disusul Sumatera 1.281 orang, dan wilayah timur 824 orang.
“Jadi ini kegiatan kejadian yang cukup aneh dan karena itu kami minta SPPG-nya stop, kemudian diperbaiki seluruh fasilitasnya menyesuaikan diri dengan SOP-nya BGN,” tegas Dadan.