nasional

Puncak Festival Sastra Kota Lulo Pustaka Kabanti, Digelar Ramai di Tengah Warga!

Senin, 23 Oktober 2023 | 16:26 WIB
Ketua Pustaka Kabanti Syaifuddin Gani

KENDARI, rakyatsultra.id - Puncak Festival Sastra Kota Lulo yang diselenggarakan oleh Pustaka Kabanti dilaksanakan pada Sabtu, 21 Oktober 2023, mulai pagi sampai tengah malam. Perayaan sastra yang bertema sastra, warga, dan keberagaman tersebut bertujuan mendekatkan sastra ke warga yang merupakan tempat lahirnya penulis dan komunitas.

Warga sebagai ruang hidup orang banyak adalah rumah bagi kemajemukan. Jadi festival ini untuk merayakan sastra, komunitas, dan warga yang beragam. Pustaka Kabanti yang berada di jantung perumahan, memberikan penghormatan bagi warga yang memberi kesembatan untuk anak-anaknya bergiat di komunitas tersebut.

Pembukaan pagi hari diawali sambutan ketua Pustaka Kabanti yang menyatakan bahwa Festival Sastra Kota Lulo adalah ruang penghormatan bagi sastrawan pencipta, komunitas sastra, dan warga tempat lahirnya sastrawan. Festival ini terselenggara berkat bantuan pemerintah dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek.

Kepala Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, Uniawati, memberikan apresisi bagi Pustaka Kabanti sebagai komunitas yang secara kontinyu dan konsisten mengerjakan tradisi mencipta sebagai pertanggungjawaban kreatifnya. 

Peresmian festival ditandai dengan pemukulan rebana yang dilakukan oleh Kepala Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Kabid Dinas Perpusip Sultra, Kabid Dinas Perpusip Kendari, Gramedia Kendari, Mandala Finance, untuk memberi kesan keindahan dari bunyi rebana, keindahan sastra. Pembukaan diberi penguatan oleh Eros Lastra yang tampil memukau dalam tampilan musikalisasi puisi.

 

Sesi penting festival ini adalah diskusi sastra, literasi dan komunitas yang menghadirkan Kepala Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara (Abdurrahman Shaleh), Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara (Uniawati), Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN (Harry Yogaswara), dan Triman (Gramedia Kendari). Keempat pembicara sepakat bahwa kaum muda, komunitas, dan sastra harus menyatu dalam semangat penciptaan. Dari para pencipta yang memiliki tradisi membaca, perubahan itu akan menjadi niscaya.

Suasana festival menjadi cair dipandu oleh moderator Kiki Reskiyana Ilyas, yang dihadiri peserta dari beragam kalangan seperti komunitas, sastrawan, seniman, guru, siswa, mahasiswa, dan tentunya warga sekitar. Terdapat hadiah lawan (doorprize) dari dua mitra Pustaka Kabanti yakni Gramedia Kendari dan Mandala Finance.

Sesi kedua diskusi sastra semakin dinamis dari para pembicara muda yang bergiat di dunia sastra Kendari yakni Muammar Qadafi Muhajir, Amaya Kim, Sartian Nuriamin, dan Marwan Dayinta. Mereka membahas tantangan, mimpi, progress, dan jejaring kekaryaan. Menariknya, para peserta yang Sebagian besar mahasiswa memberikan respon cukup mendalam lewat pertanyaan yang cukup panjang, menunik, dan dari banyak penanya. Mereka ingin juga terjun ke dunia sastra dan bertanya soal tantangan di dalamnya kepada para narasumber yang seusianya.

Salah seorang peserta yang mengaku sebagai ojol bertanya bahwa terkait tema festival ini tentang sastra, warga, dan keberagaman, apakah cipta sastra kita sudah mewarga atau justru elitis? Pertanyaan ini sangat serius yang justru membuat pembicara memberikan jawaban yang luas dan menukik.

Malam harinya, puncak FSKL semakin menarik. Sempat tertunda karena listrik padam selama dua jam, rangkaian festival tetap berjalan. Lalu Kembali berlanjut berkat peminjaman genset Kantor Bahasa Sultra. Syaifuddin Gani sebagai Ketua Pustaka Kabanti mengawali acara dengan sambutan dan penyampaian terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat secara kolaboratif atas festival ini.

Peluncuran tiga buku digital Pustaka Kabanti menandai awal yang indah kemarin malam. Tiga buku tersebut adalah Kebun Puisi Leluhur karya Iwan Konawe, Kebun Puisi: Suara dari Tenggara karya peserta Sayembara Cipta Puisi Se-Sulawesi Tenggara, dan Kebun Puisi: Tunas yang Mekar karya peserta Pelatihan Penulisan Puisi bagi Siswa SMP dan SMA. Buku duluncurkan yang ditandai dengan penandatanganan pada ketiga sampul besarnya oleh Harry Yogaswara selaku Kepala Oganisasi Riset Arkeologi, Bahasa, Sastra BRIN didampingi Ketua Pustaka Kabanti. Peluncuran ini penting maknanya bagi penyelenggara untuk memberi ruang penghormatan bagi tradisi mencipta di ranah penulisan puisi. Ketiga buku ini terbit dalam format digital yang akan dipublikasikan secara luas di flatform media digital.

Acara yang cukup dinantikan adalah pengumuman hasil Sayembara Cipta Puisi Se-Sulawesi Tenggara sebagai bagian dari festival ini. Juri lomba ini adalah Syaifuddin Gani. Maman S. Mahayana, dan With Bahar. Syaifudin Gani membacakan pertanggungjawaban juri dan teknis penilaian. Terdapat 120 puisi dari 120 penulis yang dikirim, dibaca secara cermat oleh juru dan kemudian menghasilkan kesepakatan mengenai pemenang.

Adapun hasilnya adalah pememang pertama Nini Maryana Rayanti Sari Dewi judul puisi “Kesedihan Sebuah Kota”, pemenang kedua Riska Ayu Putri judul karya “Ada yang Bercerita Perihal Perjamuan Suatu Kota”, pemenang ketiga Ramadoni La Neagi judul puisi “Laut Tidak Berkeluh Kesah”, harapan pertama Yusuf Idris Wilo judul puisi “Kapal-Kapal Lapulu”, harapan kedua “Zulyah” judul puisi “Makan Malam Bersama Talalla”, harapan ketiga Aguspian judul puisi “Di Kaki-Kaki Kota”, favorit pertama Vicka Faulia Hidayanti Djafar judul puisi “Singgah di Kendari”, favorit kedua Kartika judul puisi “Mikrolet Biru”, favorit ketiga Ismail Fathar Makka judul puisi “Wajah Laut Teluk Kendari”, dan favorit keempat La Ode Hamdansyah judul puisi “Cinta Aku Teluk Aku Teluk Kendari Aku Cemburu.”

Halaman:

Tags

Terkini

Bang Japar Meneguhkan Komitmen Jaga Jakarta

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:51 WIB