Sementara itu, lulusan SMK dengan porsi delapan persen turut menjadi sorotan. Meski dirancang sebagai jalur vokasional yang menyiapkan tenaga kerja siap pakai, data ini mengindikasikan adanya celah antara kurikulum SMK dan kebutuhan dunia industri.
Lembaga internasional seperti ADB sudah lama mengingatkan bahwa pendidikan vokasional yang tak mengikuti perkembangan industri berisiko melahirkan lulusan yang tak percaya diri menghadapi pasar kerja.
Secara keseluruhan, riset LPEM FEB UI menunjukkan bahwa pendidikan tetap menjadi faktor kunci membuka peluang kerja, tetapi tidak cukup untuk menjamin seseorang terhindar dari keputusasaan.
Ketidaksesuaian keterampilan, perubahan kebutuhan industri, hingga hambatan struktural membuat banyak lulusan dari SD hingga pascasarjana masuk kategori pekerja putus asa.
Temuan ini menjadi pengingat penting bahwa peningkatan kualitas pendidikan, terutama relevansi kompetensi kerja, perlu segera diprioritaskan.