Di balik keberhasilan pelaksanaan MBG di SMP Negeri 1 Sidoarjo, ada kerja sama banyak pihak. Guru, petugas dapur, hingga orang tua turut terlibat memastikan makanan disajikan dengan higienis dan sesuai standar gizi.
Menu yang disajikan pun berganti setiap hari agar siswa tidak bosan. Mulai dari ayam panggang, sayur bayam, nasi jagung, hingga kebab yang ternyata menjadi menu favorit Angga dan teman-temannya.
“Kadang sih dimasukin di dalam omprengnya gitu ya, kalau ada menu yang diinginkan,” ucap Angga sambil tertawa kecil. Ia mengaku senang karena kini bisa mencicipi makanan yang sebelumnya hanya dilihat di media sosial.
Program MBG memang dirancang untuk memberikan pengalaman makan sehat sekaligus mengenalkan ragam kuliner bergizi.
Dengan begitu, siswa tak hanya mendapatkan energi, tapi juga pengetahuan tentang pentingnya memilih makanan yang baik bagi tubuh.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) terus memperluas jangkauan program ini ke berbagai daerah.
Tujuannya agar seluruh siswa Indonesia, dari kota hingga pelosok, mendapat hak yang sama untuk menikmati makanan bergizi.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan pihaknya siap mendorong sinergi antara platform digital dan ekosistem pendidikan.
Kolaborasi ini diharapkan membuat distribusi makanan lebih cepat, transparan, dan tepat sasaran.
“Kementerian Komdigi siap menjadi penghubung untuk mendorong sinergi antara platform digital dan ekosistem kami, sehingga program ini dapat menyasar daerah-daerah yang membutuhkan,” ujar Meutya.
Langkah ini menjadi bukti komitmen pemerintah dalam memperkuat program sosial berbasis teknologi.
Dengan dukungan digital, rantai distribusi bahan makanan dapat diawasi secara real-time, memastikan kualitas dan ketepatan penerima manfaat.
Di sisi lain, keterlibatan sekolah seperti SMP Negeri 1 Sidoarjo menjadi contoh sukses implementasi program. Pelaksanaannya berjalan lancar karena adanya komunikasi aktif antara pihak sekolah dan instansi terkait.
Guru-guru pun merasa terbantu. Mereka tak lagi khawatir melihat siswa lemas karena belum makan, terutama di jam pelajaran siang yang sering membuat kantuk.
Kini, ruang kelas terasa lebih hidup. Siswa yang semula mudah kehilangan fokus kini tampak lebih aktif bertanya dan berpartisipasi dalam diskusi.