Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, modifikasi cuaca dan upaya pengendalian Karhutla memberikan dampak ekonomi signifikan.
“Di tahun 2019 saat itu terjadi El Nino Moderat. Itu kerugian yang terjadi akibat karhutlah sebesar Rp75 triliun. Kemudian tahun 2025 yang kita lakukan baru saja ini. Nah itu kerugiannya adalah sebesar Rp6,7 triliun. Jadi ada selisih Rp68,25 triliun yang bisa dihemat,” jelasnya.
Jika dihitung cost benefit ratio, kata Dwikorita, maka setiap satu rupiah yang dikeluarkan untuk penanganan Karhutla menghasilkan manfaat sebesar seribu tiga puluh rupiah.
Dia juga mengingatkan potensi kekeringan atau kemarau dini di Riau pada Februari 2026 sehingga operasi modifikasi cuaca harus dimulai lebih awal saat musim hujan masih berlangsung.