Jumat, 28 Agustus 2026

Mentan Amran Luruskan Data Tidak Akurat Pada Debat Cawapres

Photo Author
Efendy, Rakyat Sultra
- Senin, 22 Januari 2024 | 19:30 WIB
Andi Amran Sulaiman
Andi Amran Sulaiman

JAKARTA, rakyatsultra.id - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengomentari data yang dipaparkan selama debat Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Minggu (21/1/2024) malam.

Dia mengatakan ada data-data dan pernyataan dalam debat yang membahas tema spesifik pembangunan berkelanjutan, sumber daya alam, lingkungan hidup, energi, pangan, agraria, masyarakat adat dan desa perlu diluruskan.

“Kami menyayangkan beberapa data tidak di kroscek secara detil yang kami khawatirkan bisa menyebabkan disinformasi di masyarakat,” kata Mentan Amran pada keterangan pers, Senin (22/1).

Mentan Amran mengomentari pernyataan Mahfud MD yang menyatakan petani makin sedikit, lahan pertanian makin sedikit, tetapi subsidi pupuk makin besar, pasti ada yang salah.

Mentan menjelaskan, tema besar pembangunan pertanian Indonesia pada 2024 adalah transformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern.

Hal itu bertujuan agar seluruh proses aktivitas pertanian menggunakan alat mesin pertanian modern. Semisal penggunaan rice transplanter, combine harvester, Rice Milling Unit (RMU) dan seterusnya.

Gagasan besarnya bertujuan menekan biaya produksi 50-60 persen, meningkatkan produktifitas 20-30 persen, planting index 1-2, peningkatan mutu, mengurangi looses, dan petani mampu bertransformasi ke sektor pertanian lainnya seperti perbibitan, perbengkelan, RMU dan dryer.

Pemerintah berharap dengan ini secara otomatis jumlah petani tradisional berkurang, tetapi kesejahteraan petani meningkat.

Ini terbukti dengan tercapainya Nilai Tukar Petani (NTP) 117,76 tertinggi dalam sejarah pertanian Indonesia.

Dia menjelaskan berbeda dengan klaim Mahfud tersebut, justru dalam beberapa tahun terakhir nilai dan volume subsidi pupuk menurun, yang diakibatkan penurunan jumlah nilai subsidi dan kenaikan harga bahan baku pupuk.

Data menunjukkan sejak 2019, tren alokasi subsidi pupuk Indonesia menurun dari Rp34,1 triliun menjadi Rp 31,1 triliun pada 2020, dan terus menurun hingga Rp 25,3 triliun pada 2023.

Dari jumlah volume yang diberikan rata-rata sekitar 9 juta ton hingga hanya mampu 6,1 juta ton pada 2023.

Terkini kemampuan subsidi pemerintah hanya 4,7 juta ton (2024). Hal itu akibat bahan baku yang semakin mahal, yakni Harga DAP (Diamonium Fosfat) mengalami kenaikan sebesar 76,95 persen, sedangkan harga pupuk urea naik hingga sebesar 235,85 persen.

Kenaikan harga pupuk yang mempengaruhi volume pupuk pupuk subsidi tersbut disebabkan pandemi covid 19 dan terjadinya perang Rusia-Ukraina berujung pembatasan bkspor bahan kaku.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Efendy

Tags

Terkini

Bang Japar Meneguhkan Komitmen Jaga Jakarta

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:51 WIB

Terpopuler

X