Eka mengaku awal mula berinvestasi karena tergiur dengan persentase keuntungan dari uang yang disetorkan ke Erna. Fee yang dia dapatkan lebih besar jika setoran uang jumlahnya juga lebih banyak.
"Awalnya kami para korban percaya karena kami semua perna satu sekolah dengan Erna," ucapnya.
Sejak awal, lanjutnya Eka dan sejumlah korban lainnya menyetor sejumlah uang, beberapa bulan hasil keuntungan berupa emas yang ia dapat selalu terbayarkan.
Sehingga setiap bulannya mereka terus menambah jumlah uang untuk di investasikan, mulai dari Rp5 juta hingga Rp150 juta. Namun setelah itu keuntungan yang dijanjikan tiap bulannya sudah tidak di bayarkan lagi.
"Awalnya waktu pertama kita menyetor Rp5 juta, bulan pertama kedua dapat jeki emas. Tapi setelah kita tambah uang investasinya tidak adami didapat. Uang modal juga yang kami setorkan hingga ratusan juta juga tidak dikembalikan," ungkapnya.
"Awal investasi semua lancar, namun beberapa bulan kemudian itu tidak diberikan lagi, alasannya Erna mengalami kerugian dan bisnis investasi lagi macet," tambahnya.
Para korban pun kerap mendatangi rumah Erna yang berada di Jalan Dg Tata 1 Kota Makassar untuk meminta niat baiknya mengembalikan semua uang yang telah disetorkan.
"Setiap kami datangi rumahnya kalau bukan tidak adaki, yah paling kami di janji terus. Dijanji mau di kembalikan uang kami, tetapi sampai sekarang tidak ada niat baiknya," tuturnya.