Rakyatsultra.id, Wakatobi – Upaya membangun budaya sadar bencana di Desa Liya One Melangka dimulai sejak dini, melalui kegiatan sosialisasi kepada siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Liya One Melangka, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sultra, 4 Juli 2025.
Para siswa diperkenalkan dengan konsep dasar gempa bumi dan tsunami, cara berlindung saat gempa, serta pentingnya jalur evakuasi.
Sosialisasi dan simulasi mitigasi gempa dan tsunami yang digelar di sekolah tersebut dimulai sejak pagi hingga sore.
Pada sore hari, warga Desa One Melangka berkumpul di Kantor Desa untuk mengikuti sosialisasi dan diskusi mengenai evakuasi tsunami.
Masyarakat dari berbagai dusun yaitu dusun One Digi, One Melangka, dan One Sipi hadir, menunjukkan antusiasme tinggi untuk belajar bersama tentang bagaimana menghadapi ancaman gempa dan tsunami yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Sekitar 300 kepala keluarga yang terdapat di Desa One Melangka, pengetahuan mengenai bencana gempa dan tsunami sudah mulai luntur, sehingga kami mencoba membawa kembali pengetahuan yang kami miliki saat ini, tetapi juga digabungkan dengan kearifan lokal yang ada di sini,” ujar Ibu Nuraini Rahma Hanifa, peneliti BRIN yang menjadi pemateri dalam kegiatan ini.
Dalam kegiatan tersebut, warga diperkenalkan pada karakteristik bencana tsunami, jalur-jalur evakuasi, serta indikator kesiapan desa untuk menghadapi bencana.
Materi disampaikan secara komunikatif oleh Nuraini Rahma Hanifah dari BRIN dan Bapak Endra Gunawan dari tim ITB, disertai contoh-contoh nyata yang relevan dengan kondisi di berbagai tempat di Indonesia.
Tak hanya teori, warga juga diajak berdiskusi langsung mengenai pengalaman menghadapi gempa, lokasi rawan banjir, serta tantangan dalam proses evakuasi selama ini.
“Wanci memang tidak selalu merasakan gempanya, tetapi dampaknya yaitu tsunami bisa sangat besar. Maka dari itu penting untuk memahami keterkaitan antara gempa dan bahaya yang menyertainya,” jelas Dr. Endra Gunawan, Ketua tim pengabdian masyarakat ITB.
Setelah kegiatan sosialisasi selesai dilaksanakan, warga melanjutkan dengan pelaksanaan simulasi evakuasi tsunami secara mandiri.
Kegiatan ini bertujuan untuk menguji sejauh mana pemahaman masyarakat terhadap jalur dan prosedur evakuasi yang telah disosialisasikan sebelumnya.
Dalam simulasi ini, warga masing-masing dusun diminta untuk menggambarkan peta evakuasi mandiri berdasarkan kondisi lingkungan tempat tinggal mereka.
Peta tersebut mencakup titik-titik penting seperti lokasi rumah warga, jalan utama, jalur alternatif, tempat berkumpul sementara, hingga titik akhir evakuasi yang telah ditentukan sebagai zona aman.