Menurut Nirwono, keberhasilan atau kegagalan pembenahan Sungai Ciliwung akan menentukan kelanjutan pembenahan di sungai-sungai lainnya dan program penanggulangan banjir di Jakarta.
Karena, kata Nirwono, hanya dengan normalisasi Ciliwung dan penyelesaian sodetan Ciliwung-BKT dan dukungan Bendungan Ciawi dan Sukamahi belum menjamin Jakarta bebas banjir atau berkurang signifikan.
Nirwono menilai pembenahan 12 sungai secara bertahap tersebut, Pemda DKI juga harus merevitalisasi 109 situ/danau/embung/waduk seperti Taman Waduk Pluit yang dikeruk, diperlebar dan dihijaukan.
Kemudian, lanjut dia, rehabilitasi seluruh saluran air atau drainase kota yang saat ini hanya 33 persen berfungsi dan terhubung dengan baik. Kemudian, dimensi saluran harus dilebarkan dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) diperluas menjadi 30 persen karena saat ini hanya 9,8 persen untuk mengatasi banjir lokal.
Ia juga mengemukakan pentingnya merestorasi kawasan pesisir pantai utara, termasuk relokasi permukiman warga pesisir dan memastikan minimal 500 meter dari tepi pantai bebas bangunan dan permukiman. “Serta melakukan reforestasi hutan mangrove sebagai benteng alami mengatasi banjir rob,” katanya. (JawaPos.com)