Sosiolog terkemuka Pitirim Sorokin juga pernah mengemukakan teori tentang Amitology atau ilmu tentang cinta kasih altruistik. Sorokin berargumen bahwa tindakan menolong orang lain secara tulus melahirkan energi sosial yang luar biasa, yang pada gilirannya sering kali memicu respons positif lingkungan sekitar—termasuk peluang-peluang ekonomi dan kepercayaan bisnis—yang mempercepat akumulasi kesejahteraan sang penolong.
Dalam dunia bisnis modern, para pakar keuangan pun mulai mengakui adanya kecerdasan spiritual dalam finansial. Ketika seorang pengusaha atau pemimpin tidak lagi melekat pada hartanya dan menjadikannya alat sosial, reputasi kebaikan tersebut menjadi aset tak berwujud (intangible asset) bernilai tinggi.
Kepercayaan mitra bisnis meningkat, peluang investasi datang sendiri, dan keberkahan usaha melipatgandakan keuntungan.
Ada fenomena yang disebut sebagai the economics of altruism atau ekonomi altrusitik. Tokoh seperti Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi, berkali-kali mengingatkan bahwa kesejahteraan dan keberuntungan ekonomi sering kali berkaitan erat dengan modal sosial dan jaringan kepercayaan yang dibangun dari kerelaan berbagi.
Namun, melampaui teori Amartya Sen, ada penjelasan yang lebih purba. Ini adalah kompensasi langit. Tuhan tidak pernah berutang kepada hambanya yang dermawan.
Ketika ASR mengosongkan satu wadah hartanya untuk rakyat, Tuhan mengisi wadah tersebut dari arah yang tidak disangka-sangka. Kenaikan harta itu adalah sebuah demonstrasi visual dari Allah SWT.
Perjalanan hidup ASR mengajarkan kita tentang arti melepaskan. Bahwa untuk menggenggam sesuatu yang lebih besar, kita harus berani membuka tangan dan melepaskan apa yang kita miliki saat ini.
Melihat fenomena ASR, kita diingatkan pada sebuah kutipan popular. Kalau kamu berani memberi kepada pencipta-Nya lewat makhluk-Nya, bersiap-siaplah kewalahan menerima kembaliannya.
Kita mungkin lupa bahwa di balik setiap rupiah yang meningkat dalam laporan LHKPN itu, barangkali ada satu lirihan doa seseorang yang mengetuk pintu langit. Barangkali ada satu tetes air mata haru seseorang yang menggetarkan arasy. Doa-doa itulah yang menjelma menjadi energi magnetik yang menarik rezeki dari segala penjuru.***
*catatan secarik selarik
Oleh. Andi Syahrir (Kadis Kominfo Sultra)