publik

Matematika Langit Andi Sumangerukka

Sabtu, 18 Juli 2026 | 21:06 WIB

Ada yang ganjil dalam matematika Tuhan. Kita diajari sejak sekolah dasar bahwa pengurangan selalu memperkecil nilai. Punya sepuluh, dikurang tiga, tinggal tujuh. Rumus itu mutlak di atas kertas. 

Tetapi di hamparan kehidupan, di wilayah yang gaib dan tak tersentuh oleh kalkulator akuntan publik, rumus itu sering kali rontok. Itulah sedekah. Ia adalah satu-satunya bentuk pengurangan yang melahirkan pelipatan.

Beberapa hari ini, Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) milik Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka, diperbincangkan publik. Dalam waktu sembilan bulan menjabat, hartanya tercatat meningkat sekitar Rp 49,4 miliar.

Di era transparansi seperti sekarang, wajar jika publik menyoroti setiap digit angka yang berubah dari seorang pejabat. Nalar publik yang terbiasa disuguhi drama korupsi, angka tersebut tentu memancing tanya dan curiga. 

Bagaimana mungkin seorang pejabat, dalam waktu kurang dari setahun, bisa menumpuk puluhan miliar? Dari mana asalnya? Proyek apa yang melintas?

Di sinilah kita butuh jeda. Kita butuh melihat angka-angka itu tidak sekadar teropong hukum positif, melainkan dengan kacamata spiritualitas. Kita perlu melihat bagaimana cara ilahiah bekerja di balik angka-angka itu.

Andi Sumangerukka, atau yang karib disapa ASR, sudah dikenal sebagai seorang pengusaha yang sangat sukses dan kaya raya. Latar belakang militernya yang disiplin berpadu dengan ketajaman bisnis yang membuatnya mapan secara finansial. Dia sudah kaya raya—dalam arti yang paling harfiah.

Pun, sejak lama, masyarakat Sultra tahu betapa ringannya tangan ASR. Ia menjadikan sedekah sebagai bagian dari gaya hidupnya. Namun, dunia ini seringkali sinis terhadap kebaikan. Ketika ada orang kaya yang gemar bersedekah, sebagian orang menuduhnya memiliki pamrih. Namun waktu dan konsistensi tidak pernah berbohong. 

Dia menyedekahkan miliaran rupiah hartanya bukan saat di Sultra saja, namun kebiasaan berbagi itu telah melekat kuat sepanjang perjalanan hidupnya.

Sebagai penganut Islam yang taat, ia meyakini benar kandungan Surah Al-Baqarah ayat 261. Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.

Janji ini bukan metafora puitis belaka. Ini adalah hukum alam semesta yang bekerja secara presisi. Ketika ASR melepaskan sebagian hartanya dengan ikhlas untuk membantu rakyat, dia sebenarnya sedang menanam benih di tanah yang paling subur: rida Tuhan.

Bagi ASR, harta yang dia miliki dipandangnya bukan sebagai hak milik mutlak, melainkan titipan yang harus segera dialirkan. Air yang mengalir akan tetap jernih, air yang menyumbat akan menjadi sarang penyakit.

Ketika karakteristik kedermawanan yang konsisten ini dihadapkan pada lonjakan hartanya saat ini, kita diingatkan pada konsep the law of attraction dalam perspektif spiritual. Getaran energi pikiran dan emosi yang terpancar ke semesta pada gilirannya akan menarik realitas hidup kembali kepada diri sendiri.

Tokoh filantropi modern seperti Lynn Twist dalam bukunya The Soul of Money menjelaskan bahwa uang bertindak seperti air. Ketika ia dialirkan dengan maksud baik untuk menolong sesama, ia menciptakan arus balik kelimpahan yang lebih besar kepada sumbernya.

Halaman:

Tags

Terkini

Pendidikan, Demokrasi, dan Kesejahteraan

Jumat, 24 Juli 2026 | 14:07 WIB

Matematika Langit Andi Sumangerukka

Sabtu, 18 Juli 2026 | 21:06 WIB