Prof. Dr. Fahmi Gunawan, M.HumDosen IAIN Kendari
Hari Raya Idul Fitri dirayakan oleh umat Islam di seluruh dunia dengan semangat sukacita. Selain menandai berakhirnya bulan Ramadan—bulan suci yang kaya dengan ibadah, refleksi, dan peningkatan spiritualitas—Idul Fitri juga menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan antara keluarga dan teman. Pada saat ini, orang-orang saling mengunjungi, memaafkan, memberi salam, dan merayakan kebersamaan, menciptakan suasana yang penuh keceriaan di tengah masyarakat. Namun, bagaimana sebenarnya makna Idul Fitri dari perspektif bahasa Arab? Apakah makna tersebut hanya terbatas pada 'kembali kepada kesucian' atau 'kembali kepada keadaan asli yang penuh kesucian'?
Dalam kamus Lisan Al-Arab, Ibn al-A'rabi menjelaskan bahwa istilah 'Id' digunakan karena hari raya ini kembali setiap tahun dengan kebahagiaan baru. Al-Azhari menambahkan bahwa Hari Raya di kalangan orang Arab tidak hanya hadir dengan keceriaan, tetapi juga menyimpan kesedihan. Kegembiraan pada Idul Fitri hadir karena Allah mengunjungi hamba-Nya pada hari tersebut dengan membawa kebahagiaan dan mengampuni dosa-dosa, yang memungkinkan kita kembali ke fitrah Islamiyah. Hal ini menjelaskan mengapa kita menyebutnya Hari Raya Idul Fitri. Di sisi lain, kesedihan muncul akibat berakhirnya bulan Ramadan yang penuh kasih sayang dan barakah. Ada pula anggapan bahwa Idul Fitri merupakan hari di mana tidak ada kemaksiatan yang dilakukan, dan jika setiap hari tidak ada kemaksiatan, maka setiap hari seharusnya kita merayakan Idul Fitri. Dengan meredefinisi konsep ini, makna Idul Fitri ternyata melampaui konsep 'kembali kepada kesucian' menuju 'kembali kepada kesadaran penuh tentang bagaimana kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungan sekitar'.
Pendapat ini sejalan dengan pemikiran Al-Ghazali mengenai etika, yang menyatakan bahwa tindakan manusia terhadap lingkungan harus mencerminkan nilai-nilai keadilan, kepedulian, dan rasa tanggung jawab. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan perlu dilakukan dengan bijaksana, sambil menghindari tindakan yang dapat merusak lingkungan demi kepentingan pribadi. Pandangan senada juga disampaikan oleh Ibnu Khaldun dalam karyanya "Muqaddimah", di mana ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem untuk keberlangsungan hidup sosial dan budaya.
Selanjutnya, bagaimana perspektif Al-Qur'an tentang istilah 'īid'? Apakah kata 'īid' juga disebutkan dalam Al-Qur'an? Di dalam korpus Qur'an.com, kata 'īid', yang berasal dari akar kata ʿayn wāw dāl, muncul sebanyak 63 kali. Terdapat 18 kali dalam bentuk kata kerja ʿāda, 18 kali dalam bentuk kata kerja uʿīdu, 24 kali dalam bentuk kata nominal ʿād, 1 kali dalam bentuk kata maʿād, 1 kali dalam bentuk kata ʿāidūn, dan 1 kali dalam bentuk kata ʿīd. Dalam perspektif semantik Al-Qur'an, kata 'īid' terkait dengan doa Nabi Isa yang meminta agar Allah menurunkan hidangan dari langit sebagai hari raya bagi kaumnya, sehingga Idul Fitri pun identik dengan makanan yang lezat dan nikmat.
Menjelang hari raya Idul Fitri, tingkat konsumsi masyarakat terhadap makanan dan minuman mengalami peningkatan yang signifikan. Data dari Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa penjualan ritel meningkat secara drastis selama bulan Ramadan dan mencapai puncaknya pada saat menjelang Idul Fitri. Momen ini juga menjadi waktu bagi masyarakat Indonesia untuk meningkatkan konsumsi barang-barang, seperti pakaian baru, perlengkapan rumah tangga, serta berbagai makanan dan minuman. Dalam konteks lingkungan, peningkatan konsumsi ini tentu berakibat pada meningkatnya jumlah sampah rumah tangga. Menurut data yang disampaikan oleh Tempo.co, timbulan sampah pada tahun 2025 diprediksi akan semakin meningkat karena masa libur lebaran yang lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai sekitar 72.300 ton. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi hampir merata di seluruh Indonesia, termasuk di Kota Kendari.
Peningkatan timbulan sampah di Kota Kendari, baik sebelum maupun setelah perayaan Idul Fitri tahun ini, menyisakan masalah serius, yaitu sampah yang berserakan di berbagai lokasi seperti kompleks perumahan, sungai, dan laut, yang berpotensi menyebabkan bencana banjir atau masalah lainnya. Situasi ini disebabkan oleh minimnya lokasi pembuangan sampah yang disediakan oleh developer dan kurangnya bak penampungan sampah dari pemerintah kota Kendari, serta sejumlah alasan lainnya. Oleh karena itu, tidak jarang kita menjumpai papan peringatan tentang larangan pembuangan sampah sembarangan dengan tulisan “Jangan buang sampah di sini”, “Yang buang sampah di sini di denda 500.000”, "Yang buang sampah di sini didoakan cepat meninggal", dan “Ya Allah, cabutlah nyawa orang yang buang sampah di tempat ini.”
Melalui perspektif analisis wacana kritis, teks ini menyampaikan pernyataan imperatif yang kuat, seperti “Jangan buang sampah di sini” dan “Yang buang sampah di sini di denda 500.000”, yang menggambarkan kekuatan komunitas masyarakat dalam mengontrol tindakan individu dengan menetapkan peraturan dan sanksi yang tegas. Selain itu, ungkapan "didoakan cepat meninggal" dan "cabutlah nyawa orang yang buang sampah di tempat ini" mencerminkan kemarahan masyarakat terhadap pelanggaran norma sosial, menunjukkan bahwa tindakan membuang sampah bukan hanya merupakan pelanggaran hukum, tetapi juga pelanggaran moral yang dapat mengakibatkan stigma sosial bagi pelanggar. Dengan demikian, teks ini berfungsi sebagai panggilan untuk kesadaran kolektif, mendorong masyarakat untuk secara aktif menjaga kebersihan lingkungan dan menegakkan disiplin sosial yang penting untuk memperkuat ikatan antaranggota komunitas.
Oleh karena itu, perayaan Idul Fitri mengingatkan kita untuk tidak hanya 'kembali kepada kesucian', tetapi juga 'kembali kepada kesadaran lingkungan' demi menjaga kebersihan dan kelestarian alam. Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan kolaborasi antara pemerintah Kota Kendari, para pengusaha, dan masyarakat setempat, sehingga momentum hari raya tidak hanya menjadi perayaan belaka, tetapi juga praktik nyata dalam merawat lingkungan sekitar kita.
Artikel Terkait
Sambut Idul Adha 1445 Hijriah, BSI Salurkan 9.390 Hewan Potong ke Seluruh Indonesia
Kepala BPOM Taruna Ikrar Ingatkan Masyarakat Teliti Memilih Kudapan Lebaran Idul Fitri