Jumat, 28 Agustus 2026

Peningkatan Suhu Global Mengancam Perkebunan Sawit, Pakar & Peneliti Cari Solusi di ICOPE 2025

Photo Author
Sitti Asnawati, Rakyat Sultra
- Kamis, 13 Februari 2025 | 13:08 WIB
Peningkatan suhu global mengancam perkebunan sawit, para pakar, peneliti, pelaku usaha mencari solusinya di ICOPE 2025. Fot: Dokumentasi ICOPE
Peningkatan suhu global mengancam perkebunan sawit, para pakar, peneliti, pelaku usaha mencari solusinya di ICOPE 2025. Fot: Dokumentasi ICOPE

Jakarta,Rakyatsultra.id - kelapa sawit merupakan salah satu komoditas utama Indonesia. Namun, peningkatan suhu global menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian atau perkebunan sawit. Hal itu dapat memengaruhi produksi kelapa sawit di Indonesia yang merupakan pemain terbesar di sektor tersebut.

Bram Hadiwidjaya dari SMART Research Institute melaporkan bahwa suhu di wilayah tropis meningkat 0,2 derajat celsius per dekade. Suhunya bahkan bisa naik 0,3 derajat celsius pada periode berikutnya.

"Kenaikan suhu ini sangat berbahaya bagi hasil panen,” kata dia dalam International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) Series 2025 di Bali Beach Convention, Rabu (12/2). Bram menambahkan bahwa hasil studi menunjukkan peningkatan suhu 1-3 derajat celsius dapat mengurangi hasil panen hingga 40-41 persen. 

Bram menyoroti pentingnya tindakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mencapai target net zero emissions (NZE). Tanpa upaya tersebut, Bram melanjutkan, suhu dapat meningkat hingga 0,5 derajat celsius per dekade, yang akan berdampak langsung pada produktivitas perkebunan.

"Situasi ini harus ditangani dengan serius, terutama dengan adanya pergeseran curah hujan yang dapat memengaruhi hasil panen," ungkap Bram lagi.

Dia pun menggarisbawahi pentingnya memahami dan menghadapi tantangan perubahan iklim untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian global. Jika tidak, hal ini akan kian memperparah sektor perkebunan secara global.

Peneliti iklim CLIVAR di Ocean University of China Agus Santoso menyampaikan perubahan iklim yang disebabkan oleh fenomena, seperti El Nino, makin memperburuk situasi ini. 

"El Nino membawa kekeringan yang dapat merugikan perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang sangat bergantung pada kondisi cuaca yang stabil," ungkapnya.

Untuk menghadapi tantangan di sektor perkebunan, French Agricultural Research Centre for International Development (CIRAD) melaksanakan program talent.

 

Hal itu sebagai upaya merupakan upaya mempersiapkan manajer perkebunan untuk menjalankan praktik produksi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Direktur Regional CIRAD Alain Rival menjelaskan bahwa manajer perkebunan sering kali dihadapkan pada tanggung jawab yang kompleks, termasuk memastikan kualitas produk dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas. Oleh karena itu, mereka perlu diberikan pelatihan agar lebih siap dalam mengelola perkebunan.

 

Program ini dirancang untuk tidak hanya fokus pada aspek perkebunan, tetapi juga mengintegrasikan isu-isu penting, seperti konservasi dan keanekaragaman hayati. 

"Kami memiliki ambisi besar untuk memberikan pelatihan yang komprehensif bagi manajer, termasuk penanganan satwa liar di sekitar perkebunan," tambah Rival.

Salah satu target negara yang diidentifikasi untuk melaksanakan program tersebut ialah Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sitti Asnawati

Tags

Terkini

X