PDIP akan melawan partai pemenang, yaitu Nasdem yang berkoalisi dengan partai besar seperti Golkar, Gerindra, PKS, dan Demokrat. Kemudian ada PAN, Hanura, Gelora, dan PSI yang totalnya sebanyak sembilan partai.
Sementara PDIP, hanya dengan dua tambahan partai besar, yaitu PKB dan PPP. Sisanya partai non parlemen seperti Partai Buruh, PBB, dan Ummat.
“Di situasi ini, dengan Pilgub yang hanya diikuti dua pasangan calon, koalisi partai yang punya kekuatan lebih besarlah yang berpotensi menang. Apalagi sudah ada survei yang menunjukkan selisihnya yang bahkan mencapai sekitar 30 persen,” tandasnya.
“Nah, inilah tantangan yang harus dihadapi PDIP. Apakah bisa mencetak sejarah, atau kembali mengulang sejarah, gagal memenangkan kadernya di Pilgub. Walaupun mereka pernah menang waktu mengusung non kader,” pungkasnya.
Diketahui, PDIP Sulsel baru saja melakukan Rapat Kerja Daerah Khusus (Rakerdasus) PDI Perjuangan Sulsel yang digelar di Hotel Claro, Jumat (27/9/2024).
Pada kesempatan itu, Ketua DPD PDIP Sulsel, Andi Ridwan Wittiri mengungkapkan bahwa usungan partainya mendapat lawan yang sangat berat karena diusung oleh partai peraih suara dominan di Sulsel.
Untuk itu, diakuinya bahwa PDIP membutuhkan strategi khusus untuk memenangkan pertarungan yang sungguh amat sangat berat ini.
“Saya telah menginstruksikan untuk membentuk komandan-komandan teritorial, yang bertanggungjawab menjalankan strategi dan evaluasi pergerakan pemenangan di Pilgub,” ungkapnya.