pilkada

Prof Sukri Tamma: Danny Pomanto Berdarah Gorontalo, Sangat Sulit Membangun Sentimen Primordial di Sulsel

Minggu, 29 September 2024 | 22:21 WIB
Prof Sukri Tamma

 

MAKASSAR - Pengamat Politik Unhas, Prof Sukri Tamma mengungkapkan konstalasi geopolitik pada Pilgub Sulsel 2024 sangat sulit dimenangkan Muh Ramdhan 'Danny' Pomanto. Menurutnya, Danny Pomanto memang punya ketokohan, namun itu mungkin hanya berlaku di daerah Makassar. Sehingga ada pekerjaan besar untuk membuatnya diterima di 24 kabupaten/kota di Sulsel.

Dalam sisi geopolitik, Danny Pomanto yang berdarah Gorontalo juga sangat sulit membangun sentimen primordial di Sulsel.

“Danny Pomanto, harus bekerja keras karena saling terkait. Karena Sulsel bukan hanya Makassar saja,” ujarnya.

Di samping itu, Danny Pomanto yang berdarah Gorontalo itu ternyata pernah mencoba peruntungannya untuk ikut maju dalam pemilihan gubernur Gorontalo 2011 lalu. Namun dia yang saat itu berpaket dengan Sofyan Puhi, dinyatakan tidak berhak ikut Pilkada Gubernur Gorontalo. Mereka tidak bisa memenuhi persyaratan jumlah suara partai politik pengusung menjadi 15 persen.

Dalam Pilgub Sulsel ini, Danny juga mendapat dukungan dari tokoh dan masyarakat Gorontalo, seperti Fadel Muhammad, Nasir Tongkodu, dan Verrianto Madjowa, sehingga telah terbangun sejak awal bahwa Danny merupakan tokoh daerah Gorontalo dan sudah membentuk basis sentimen primordial di sana.

Terkait partai pengusung Danny, yakni PDIP, Prof Sukri tak menampik bahwa sejarah politik di Sulsel memang tidak pernah dimenangkan PDIP. Faktor penyebabnya ada begitu banyak, salah satunya soal ketokohan kader yang dimiliki.

"Secara nasional PDIP mungkin adalah partai pemenang, tetapi itu tidak berlaku di Sulsel. Situasinya terbilang sulit, apalagi dengan ambisi untuk menjadi penguasa," katanya. Khususnya keinginan untuk memenangkan kadernya yaitu Danny Pomanto di Pilgub Sulsel 2024. Partai berlambang banteng itu harus berjuang keras menentang sejarah yang tidak pernah mencatatkan kadernya terpilih sebagai Gubernur Sulsel.

“Kalau kita bicara wilayah atau daerah, dalam hal ini Pilkada punya kondisi objektifnya masing-masing, punya sentimen sosial politik masing-masing. Kemudian juga terpenting adalah ketokohan,” bebernya, Sabtu (28/9/2024).

Menurut dia, untuk ketokohan kader PDIP dalam sejarah Pilkada di Sulsel lebih selalu kalah bersaing dengan partai lain. Terutama oleh Golkar yang begitu mendominasi.

“Karena Sulsel itu sejarahnya memang adalah Golkar, berpuluh tahun berkuasa. Sekarang ini saja baru bergeser ke partai-partai lain seperti NasDem, Gerindra, dan lain-lain,” ucapnya.

“Sehingga ketika ingin bersaing dengan kader partai lain, PDIP selalu sulit, bahkan harus mengalah, sebab jika memaksakan, harus siap kalah,” tambah dia.

Meski begitu, Sukri tak ingin menutup mata bahwa PDIP punya sejumlah kader yang cukup bagus bertarung di Pilkada 2024. Namun, masalahnya adalah apakah itu cukup jika disandingkan dengan kekuatan partai.

“Infrastruktur kepartaian PDIP tidak terlalu bagus, apalagi di Pemilu kemarin tidak masuk empat besar di Sulsel. Ini jelas menunjukkan tantangan berat yang harus dilalui untuk memenangkan kontestasi baik pilgub maupun pilkada di seluruh daerah,” terangnya.

Tidak hanya itu, tantangan besar lainnya bahwa hampir seluruh partai besar termasuk pemenang Pemilu di Sulsel berada di barisan lawan mereka, yaitu Andi Sudirman-Fatmawati Rusdi. Ini lagi-lagi tentu menjadi beban tersendiri bagi PDIP.

Halaman:

Terkini

MK Putuskan Sebagian PHPU Kabupaten Barito Utara

Senin, 24 Februari 2025 | 11:20 WIB