Jumat, 28 Agustus 2026

Ilmuwan Harus Berkarakter

Photo Author
Administrator, Rakyat Sultra
- Senin, 26 September 2016 | 09:57 WIB
Prof Usman Rianse
Prof Usman Rianse

-
Prof Usman Rianse

RAKYATSULTRA.COM, KENDARI - Prestasi Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari di kancah nasional dan internasional selama dipimpin oleh Rektor Prof Dr H Usman Rianse MS terbilang banyak.

Segala penghargaan itu diraih sejalan visi Prof Usman menjadikan UHO sebagai perguruan tinggi unggul di Indonesia, bermartabat, berbudaya akademik, menghasilkan sumber daya manusi (SDM) cerdas komprehensif dalam pengembangan pesisir, kelautan, dan perdesaan.

Namun segudang prestasi yang diraih bukan menjadi target utama bagi dirinya. Dalam benaknya ia memiliki keinginan bagaimana ia memberikan kenyamanan dan kesejahteraan bagi berbagai objek di lingkup UHO.

Usman mengatakan bahwa suatu prestasi yang tengah dinikmati sekarang tak berarti jika tanpa adanya rasa syukur.

"Bukan prestasi yang sebanyak-banyaknya yang saya kejar. Tetapi tetap saya berterima kasih atas apresiasi itu. Alhamdulillah itu berkat semua dukungan masyarakat dan seluruh mahasiswa, tapi jujur saya memulai UHO itu untuk membuat kondusif," kata Rektor Universitas Halu Oleo dua periode itu, Jumat (23/9).

Usman sendiri memiliki harapan agar kedepannya mahasiswa UHO bisa menjadi bagian dari generasi emas, yang sabar dan memliki daya tahan, tangguh, tapi penuh dengan rasa syukur. Kata dia, untuk mewujudkan itu diperlukan ilmuwan yang memliki jati diri dan berkarakter sesuai dengan visi dan misi Perguruan Tinggi UHO.

Ia juga berpesan pada rektor selanjutnya yang akan menggantikan dirinya nanti, ada tiga prinsip dasar yang harus diutamakan dalam membangun UHO, di antarnya seorang rektor harus memiliki komitmen.

"Kedepanya itu yang penting adalah komitmen dari rektornya. Jadi kalau rektornya berkomitmen, apa yang sudah dikerjakan bersama akan menjadi prestasi rame-rame. Dan tidak mungkin menjadi prestasi kalau tidak ada yang dukung," tuturnya.

Masih kata Usman, kedua, semua elemen kampus UHO harus patuh pada aturan main yang diputuskan oleh pihak yang memiliki wewenang dari puncuk pimpinan utama.

"Yang kita putuskan itu kita harus patuhi misalnya senat, dekan, jurusan,rektor, dan ketua lembaga dan itu patut kita jalankan kalau sudah disepakati, semua harus taat kesitu. Jangan kita mencari penguatan dari luar, dan itu tidak toleran pada aturan," lanjutnya.

Menurutnya, pemimpin itu dalam menurunkan aturan harus sesuai dengan kebutuhan institusi. Jadi sepanjang tidak bertentangan dan itu dapat bermanfaat, maka tidak perlu dipermasalahkan. Satu hal lagi ia iangatkan bahwa tidak semua aturan harus ada hukumnnya.

"Misalnya sekarang kampus tanpa asap rokok, itu tidak bisa diatur dengan larangan atau hukuman karena pasti cari-cari masalah, tapi kita merupakan proses adaptasi yang panjang sampai 2045. Kita ingatkan saja bahwa kampus kita adalah kampus tanpa asap rokok. Sama halnya dengan kita berikan aturan harus berbaju seragam itu tidak ada hukumannya," terangnya.

Ia juga menambahkan untuk membangun UHO lebih baik lagi diperlukan kekompakan antara rektor dan dekan fakultas. Jika masih ada pertentangan maka untuk mewujudkan prestasi itu akan sulit dicapai.

Yang tercatat sebagai Rektor keenam UHO itu mengaskan bahwa dirinya bukanlah seorang pemimpin yang arogan dan anti kritik, namun sesungguhnya apa yang ia kerjakan saat ini hanya untuk menunjukan rasa keprihatinannya terhadap mahasiswa UHO.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Gen Z Jadi Tantangan Baru pembinaan Gerakan Pramuka

Kamis, 11 Desember 2025 | 10:24 WIB

Terpopuler

X