Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas jangka pendek. Namun pasar saat ini tidak hanya menguji kekuatan rupiah atau level IHSG.
"Pasar sedang menguji kredibilitas kebijakan, kepastian regulasi, kualitas tata kelola, dan kemampuan negara menjaga stabilitas sistem keuangan. Karena itu, tantangan yang dihadapi saat ini bukan semata persoalan likuiditas, tetapi juga persoalan kepercayaan," tegasnya.
Dalam konteks tersebut, FINE Institute juga menilai berbagai proyeksi optimistis mengenai penguatan rupiah perlu dibaca secara hati-hati. Secara teoritis rupiah memang dapat kembali menguat apabila terjadi pembalikan arus modal asing, peningkatan devisa ekspor, membaiknya sentimen global, serta pulihnya kepercayaan investor.
Namun dalam kondisi saat ini, ketika IHSG masih berada dalam tren koreksi tajam, rupiah berada di salah satu level terlemahnya dalam dua dekade terakhir, dan arus keluar modal asing masih berlangsung, pasar belum melihat faktor-faktor fundamental yang cukup kuat untuk mendukung penguatan rupiah secara agresif dalam waktu dekat.
"Pasar tidak bekerja berdasarkan target atau harapan semata. Pasar bekerja berdasarkan kepercayaan. Selama faktor-faktor yang menjadi sumber kekhawatiran investor belum terjawab, maka volatilitas masih akan tetap tinggi," kata Kusfiardi.
Ia menegaskan bahwa pelajaran terbesar dari gejolak pasar sepanjang Mei hingga awal Juni 2026 adalah masih tingginya ketergantungan pasar keuangan Indonesia terhadap modal asing dan sentimen global.
Karena itu, agenda yang paling mendesak bukan hanya menjaga stabilitas jangka pendek, tetapi melakukan reformasi struktural untuk memperdalam pasar keuangan domestik, memperkuat investor institusional nasional, meningkatkan free float, memperbaiki tata kelola pasar, serta menciptakan kepastian kebijakan yang lebih kuat.
"Jika tidak ada penguatan fondasi pasar keuangan domestik, maka setiap perubahan sentimen global akan terus menghasilkan tekanan yang besar terhadap pasar Indonesia. Gejolak yang terjadi saat ini harus menjadi momentum untuk membangun pasar keuangan yang lebih tahan terhadap guncangan eksternal," pungkasnya.