Jakarta, rakyatsultra.id - Tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia sepanjang Januari hingga awal Juni 2026 menunjukkan bahwa persoalan yang sedang dihadapi Indonesia jauh lebih besar daripada sekadar pelemahan harga saham atau depresiasi nilai tukar rupiah. Koreksi IHSG yang telah mendekati 40 persen dari puncaknya pada Januari 2026 serta pelemahan rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS mencerminkan meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar keuangan Indonesia secara keseluruhan.
Analis Ekonomi Politik Menteng Kleb sekaligus Co-Founder FINE Institute, Kusfiardi, menilai bahwa yang sedang mengalami koreksi bukan hanya harga aset keuangan, melainkan juga tingkat kepercayaan investor terhadap ketahanan struktur pasar keuangan nasional.
"Yang sedang dikoreksi pasar bukan hanya saham dan rupiah. Yang sedang dinilai ulang adalah risiko Indonesia itu sendiri. Karena itu, gejolak yang terjadi saat ini perlu dibaca lebih dalam daripada sekadar volatilitas pasar biasa," ujar Kusfiardi.
Menurutnya, terdapat sejumlah temuan penting yang perlu menjadi perhatian pemerintah dan otoritas keuangan.
Pertama, tekanan pasar tidak dapat dijelaskan hanya oleh faktor eksternal seperti penguatan dolar AS, konflik geopolitik, atau tingginya suku bunga global. Faktor-faktor tersebut memang menjadi pemicu, namun kedalaman koreksi yang terjadi menunjukkan adanya persoalan domestik yang lebih mendasar, yaitu struktur pasar yang masih dangkal dan ketergantungan yang tinggi terhadap arus modal asing.
Kedua, peristiwa rebalancing indeks MSCI pada Mei 2026 memperlihatkan betapa besarnya pengaruh institusi keuangan global terhadap pasar Indonesia. Keluarnya sejumlah saham besar dari indeks tersebut memicu arus keluar dana asing dalam jumlah besar dan mempercepat tekanan terhadap pasar saham maupun nilai tukar.
"MSCI memang bukan regulator Indonesia. Namun keputusan lembaga indeks global mampu memengaruhi likuiditas, biaya modal, dan persepsi risiko pasar Indonesia secara langsung. Ini menunjukkan bahwa pasar kita masih sangat sensitif terhadap keputusan aktor keuangan global," jelasnya.
Ketiga, tekanan yang terjadi di pasar saham jauh lebih besar dibanding pelemahan nilai tukar. Sejak awal tahun hingga awal Juni 2026, rupiah melemah sekitar 10 persen, sementara IHSG terkoreksi mendekati 40 persen dari titik tertingginya.
Menurut Kusfiardi, perbedaan tersebut menunjukkan bahwa investor tidak hanya mengurangi eksposur terhadap rupiah, tetapi juga melakukan repricing terhadap aset dan risiko Indonesia secara keseluruhan.
"Jika rupiah melemah 10 persen tetapi pasar saham jatuh hampir empat kali lebih dalam, maka ada pesan yang lebih besar daripada sekadar penguatan dolar AS. Pasar sedang melakukan penilaian ulang terhadap prospek dan risiko Indonesia," katanya.
Keempat, investor domestik memang berhasil menjadi penyangga pasar di tengah arus keluar dana asing. Namun kemampuan tersebut masih memiliki keterbatasan.
Menurut Kusfiardi, keberhasilan investor domestik menyerap sebagian tekanan jual asing tidak boleh diartikan bahwa struktur pasar telah kuat. Justru kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang sedang terjadi sangat besar sehingga membutuhkan penyerapan yang luar biasa dari pelaku domestik.
Ia menilai bahwa terdapat satu isu penting yang relatif luput dari perhatian publik, yakni pergeseran fokus pasar dari persoalan likuiditas menuju persoalan kredibilitas.
Selama beberapa pekan terakhir, pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan Bursa Efek Indonesia telah mengambil berbagai langkah stabilisasi, mulai dari intervensi pasar valas, dukungan terhadap pasar obligasi, relaksasi buyback saham, hingga penyesuaian kebijakan perdagangan.