Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) IKA PMII Sultra sekaligus kepala BLK Kendari, Laode Haji Polondu (kiri) bersama KH Djakri Napu saat buka puasa bersama yang juga dihadiri para pengurus Koordinator Cabang PMII Sultra, PMII Cabang Kota Kendari, pengurus Komisariat PMII UHO dan Rayon, Sabtu (17/4/2021).
KENDARI - Ada banyak kisah penyerta mengapa Nabi Ibrahim disebut dalam tahiat akhir saat salat bagi umat Islam. Kisah-kisah itu bertebaran dalam tulisan media-media daring (online).
Namun KH Djakri Napu, kiai sesepuh NU Wilayah Sultra, menyebut ada tiga kisah populer sehingga Nabi Ibrahim menjadi satu-satunya nabi yang disebut dalam salat.
"Kisah itu semua ada dalam al-quran yang diturunkan untuk semua umat Islam di dunia," ujarnya membawakan kuliah tujuh menit saat acara buka puasa bersama Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Wilayah Sultra, di Sekretariat IKA PMII, Sabtu (17/4/2021).
Kisah pertama katanya saat Ibrahim mencari keyakinan akan keberadaan Tuhan. Ibrahim tidak yakin akan keberadaan berhala-berhala sebagai Tuhan karena benda itu tak bernafas. Ibrahim juga tak yakin jika bulan dan juga matahari adalah Tuhan karena kedua ciptaan itu terbit dan tenggelam pada siang dan malam hari.
Ibrahim berpikir apa yang selama ini diyakini sebagian penduduk Babilon adalah keliru. Ia lantas meminta untuk ditunjukkan kekuasaan Tuhan agar keimanannya semakin mantap.
"Pertanyaan itu digambarkan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 260," kata Djakri Napu.
"Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati. Allah berfirman, 'Belum yakinkah kamu?' Ibrahim menjawab, 'Aku telah menyakini itu, akan tetapi ini agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).' Allah berfirman, '(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung lalu sembelihlah semuanya olehmu. Lalu letakkan di atas setiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera'. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
Nabi Ibrahim mengikuti perintah itu. Dan benar, setelah mendengar panggilan Ibrahim, atas kehendak Allah diceritakan bahwa empat burung itu menghampiri Ibrahim dalam keadaan utuh seperti sedia kala. Burung-burung yang telah hidup kembali itu lalu hinggap ke depan Ibrahim.
Keringat mengucur setelah Ibrahim menyaksikan semua itu sendiri, di depan mata-kepalanya. Nabi Ibrahim lantas bersujud. Sejak saat itu, ia merasa harus menyampaikannya kepada orang tua dan seluruh penduduk Babilon.
Tapi jalan Ibrahim tak mudah. Pertama kali, ia menyampaikan keyakinannya itu pada sang ayah, Azzar. Tapi ayahnya menolaknya. Ayahnya marah besar, tapi Nabi Ibrahim dengan tenang menerima kemarahan itu. Dengan kesedihan mendalam, Nabi Ibrahim meninggalkan rumah seraya tetap mendoakan keselamatan sang ayah.
Allah SWT pun berfirman, "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya, Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku". (QS. Maryam [19]: 47-48).
Kedua, perjuangan Nabi Ibrahim dalam mengutamakan perintah Allah tercermin dalam kehidupannya ketika baru mendapatkan keturunan, lalu Allah SWT memerintahkannya untuk berdakwah di tempat lain dan meninggalkan istri dan putranya yang masih bayi seraya berdoa sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah surat Ibrahim [14] ayat 37:
"Ya Tuhan Kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."
Ketika Nabi Ibrahim kembali dari berdakwah dia melihat putranya Ismail sudah menjadi anak yang belia. Namun Allah SWT lagi-lagi menguji keimanannya untuk menyembelih putranya tersebut.
"Hal itu sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah surat Ash-Shoffat [37] ayat 99-111. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelih mu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!"
ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaallah kamu akan mendapati ku termasuk orang-orang yang sabar".
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), nyatalah kesabaran keduanya.
Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Keikhlasan Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, itulah yang kemudian diabadikan dalam bentuk perintah berkurban (dalam bentuk hewan) saat perayaan Iduladha.
Ketiga, Nabi Ibrahim orang yang selalu bersedekah setiap hari. “Nabi Ibrahim mengatakan, ‘Aku tidak makan, baik di waktu sore maupun pagi kecuali bersama tamu.’ (Diriwiyatkan bahwasannya Nabi Ibrahim as, selalu berjalan sejauh 1 mil atau 2 mil untuk mencari orang yang akan makan bersama Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. (aji)