Samsuddin, suami korban covid-19 di Kecamatan Katobu Kabupaten Muna
RAHA - Kasus kematian salah seorang warga Kecamatan Katobu Kabupaten Muna akibat Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) masih menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Di tengah duka yang mereka alami, mereka juga harus menerima kenyataan dikucilkan di tengah-tengah masyarakat.
Suami korban, Samsuddin sangat menyayangkan kinerja gugus tugas Covid-19 Kabupaten Muna yang terkesan mengabaikan keluarga korban pascakematian istrinya, sebab sebagai keluarga korban mereka mengharapkan 'kehadiran' pemerintah dalam hal ini gugus tugas Covid-19 untuk memberi pencerahan di tengah musibah yang mereka alami.
"Kami keluarga butuh pendapat dan saran, apa yang harus kami lakukan untuk memutus mata rantai Covid-19 ini, apakah kami dikasi obat vitamin atau arahan-arahan yang bisa membuat kami tenang. Sekarang kita karantina mandiri, kami seperti terbuang," keluh Samsuddin.
Apalagi saat ini mereka harus menerima kenyataan dikucilkan di tengah-tengah masyarakat.
"Setelah kematian istri saya, hanya dari pihak puskesmas Laende yang datang tanya-tanya, kemudian dari BNPB datang menyemprot desinfektan, itupun nanti pak Awal, anggota DPRD Muna yang arahkan mereka untuk datang menyemprot keesokan harinya, setelah istri saya meninggal. Kami butuh arahan dan perhatian, seperti apa yang harus kami lakukan dalam keadaan seperti ini. Kami merasa terbuang, rasanya saya mau gila. Tanpa kami disuruhpun kami sudah karantina mandiri karena tidak ada yang mau layani kami," keluh Samsudin.
Ia menaruh harapan besar kepada pemerintah khususnya gugus tugas Covid-19 Muna agar dapat memberi sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat bagaimana cara memutus mata rantai Covid-19 tanpa harus mengucilkan keluarga korban Covid-19.
"Yang lewat depan rumah saya seperti tidak injak tanah lagi, mulutnya dikunci rapat-rapat. Tapi saya ikhlas dengan apa yang terjadi dengan almarhum istri saya, mungkin sudah garis tangannya. Saya ungkapkan ini semua agar apa yang saya alami tidak terjadi dengan orang lain, cukup keluarga saya saja yang alami. Sekarang, saya harus kehilangan mata pencaharian, karena tidak ada yang berani kontak dengan kami," ucap pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bengkel keliling ini.
Ia berharap, pemerintah segera mengeluarkan hasil swabnya dan anak-anaknya yang pernah kontak erat dengan korban.
"Kita dijanji empat hari keluar mi hasil swabnya tapi sampai hari ini (Sabtu_red) hasilnya belum keluar.
Hingga berita ini dipublikasikan, pihak gugus tugas Covid-19 Muna belum berhasil dikonfirmasi. (sra/aji)