nasional

Ketua Inisiasi Masyarakat Adat Nukila Evanty Bicara Lantang di Hadapan Pemimpin Tingkat ASEAN

Senin, 25 Agustus 2025 | 09:58 WIB
Ketua Inisiasi Masyarakat Adat Nukila Evanty menyinggung tentang pentingnya pelibatan masyarakat di proyek energi dalam forum ASEAN. (Istimewa)

Jakarta,RakyatSultra.id-Ketua Inisiasi Masyarakat Adat (IMA) Nukila Evanty memiliki nyali besar berbicara dengan lantang di hadapan para pemimpin dari sejumlah negara ASEAN.

Dengan bekal pengalaman sebagai aktivis dan budayawan, Nukila Evanty tak ada rasa khawatir untuk bicara tentang apa yang diyakininya.

Nukila Evanty berbicara dalam forum ASEAN dengan kapasitasnya sebagai pembicara dalam acara The ASEAN Multi-Stakeholder Forum on Sustainability atau Forum Multi Pemangku Kepentingan ASEAN yang berlangsung di Bangkok, Thailand, 21-22 Agustus 2025.

Dalam forum ASEAN, Nukila Evanty menyuarakan tentang energi yang adil bagi semua masyarakat. Menurut dia, negara-negara di ASEAN menunjukkan disparitas yang signifikan dalam akses dan infrastruktur energi.

Beberapa negara telah menikmati energi bersih, sementara sejumlah negara lain masih kesulitan untuk mendapatkan akses energi bersih, terutama di daerah pedesaan.

Selain itu, Nukila Evanty juga menyinggung disparitas dalam pengembangan energi terbarukan dan pendanaannya yang terjadi di sejumlah negara.

Nukila menyatakan dalam transisi energi bersih, dapat dinikmati semua orang dengan mengutamakan pendekatan bottom up. Masyarakat harus dilibatkan sejak awal dalam proses pembuatan kebijakan untuk semua proyek energi.

Sebagai aktivis yang terjun langsung ke masyarakat, dengan pendekatan advokasi berbasis riset, Nukila mencontohkan pengalamannya selama melakukan advokasi di Teluk Sepang, Bengkulu.

Di kawasan tersebut masyarakat terdampak proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap, dengan investasi sebesar Rp 1,8 triliun atau sekitar USD 112 juta dari investor asing. Setali tiga uang, hal sama juga terjadi Pulau Rempang, Kepulauan Riau dengan proyek Eco City dengan investasi sebesar Rp 174 miliar.

Nukila Evanty melihat proyek energi tersebut memiliki dampak kurang baik pada empat hal karena tidak melibatkan masyarakat setempat sebagai bagian penting dalam perencanaan.

Pertama, dampak lingkungan yaitu ekosistem air, tanah, hingga kualitas udara yang tercemar. Kedua, gangguan sosial ekonomi karena memindahkan para petani dan nelayan jauh dari lokasi mereka mencari mata pencaharian.

Ketiga, masalah kesehatan seperti infeksi pernapasan dan penyakit kulit. Keempat, peran perempuan hanya sebagai subordinat, padahal mereka dapat memainkan peranan penting dalam penggunaan energi di rumah tangga masing-masing.

Karena itu, diperlukan keterlibatan organisasi masyarakat sipil untuk melakukan edukasi terhadap penduduk desa, mulai dari generasi muda, kaum perempuan hingga masyarakat marjinal lainnya untuk memahami tentang pentingnya energi bersih untuk menciptakan tempat tinggal mereka yang ramah lingkungan.

Tags

Terkini

Bang Japar Meneguhkan Komitmen Jaga Jakarta

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:51 WIB