Jumat, 28 Agustus 2026

Petani Papua Sambut Program Cetak Sawah, Dari Cangkul ke Traktor Menuju Harapan Baru

Photo Author
Efendy, Rakyat Sultra
- Jumat, 12 Juni 2026 | 20:51 WIB

Jakarta, rakyatsultra.id – Program pengembangan pertanian yang dijalankan Kementerian Pertanian (Kementan) mendapat dukungan dari petani dan masyarakat adat di Papua. Mereka menilai pembangunan sawah, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta pendampingan yang dilakukan pemerintah mulai menghadirkan perubahan nyata dalam cara bertani dan membuka harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah timur Indonesia.

Dukungan tersebut disampaikan petani yang hadir dalam Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua 2026 di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Tanah Papua yang saat ini menjadi lokasi pengembangan pertanian, termasuk Kabupaten Sarmi di Papua dan Kabupaten Sorong Selatan di Papua Selatan.

Ketua Gapoktan Kampung Ketom Jaya, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi, Michael M. Kubuan, mengatakan program pengembangan sawah yang tengah berjalan di wilayahnya memberikan optimisme baru bagi masyarakat adat pemilik hak ulayat.

Saat ini, kawasan pertanian yang sedang dikembangkan di wilayahnya mencapai 600 hektare. Menurut Michael, program tersebut diharapkan dapat membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat dan generasi mendatang.

"Hari ini saya ke Jakarta mendengarkan langsung dari Pak Menteri. Himbauan yang jelas dan tepat bahwa kita berikan perubahan untuk generasi kita. Mudah-mudahan dengan program yang akan menjadi sawah luas 600 hektare ini bisa membawa suatu perubahan bagi saya, anak-anak saya, cucu, dan keluarga saya yang ada di sekitar itu," kata Michael usai konsolidasi bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Kantor Pusat Kementan, Kamis (11/6/2026).

Sebagai bagian dari masyarakat adat, ia juga mengajak seluruh pemilik hak ulayat dan masyarakat setempat untuk bersama-sama mendukung pembangunan pertanian yang sedang berjalan.

"Sebagai rekan keluarga adat pemilik hak ulayat, saya imbau untuk kita semua bergandengan tangan untuk bahu-membahu menyukseskan program ini di Kabupaten Sarmi," ungkapnya.

Michael mengaku telah merasakan langsung manfaat bantuan alsintan yang diberikan pemerintah. Kehadiran alat pertanian modern membuat pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual menjadi jauh lebih cepat dan efisien.

"Alat bantuan yang ada di wilayah kami sudah digunakan. Kami sendiri yang bawa dan kami duduk di atasnya, kami rasa suatu perubahan. Tadinya kami cangkul, kami coba babat dengan parang, tapi kami kalah. Hari ini kami bajak. Satu hari bisa sampai tiga hektare dengan satu alat bajak," ucapnya.

Dukungan serupa disampaikan petani lokal asal Kecamatan Moswaren, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, Yance Homer. Ia mengatakan program cetak sawah telah membuka kesempatan bagi masyarakat asli Papua untuk terlibat langsung dalam pengembangan pertanian modern.

"Kami orang Papua dulunya berkebun. Tapi karena dengan adanya program cetak sawah, maka kami beralih menjadi petani. Kami orang lokal, orang Papua juga ikut pertanian dan program ini sudah berjalan," kata Yance.

Menurutnya, masyarakat telah menyiapkan lahan untuk mendukung pengembangan pertanian yang sedang berjalan. Ia menegaskan lahan yang digunakan merupakan lahan yang sebelumnya sudah dimanfaatkan dan bukan kawasan hutan baru.

"Daripada menjadi lahan tidur, sekarang dimanfaatkan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Yance berharap program tersebut terus diperkuat melalui bantuan sarana produksi, pendampingan, dan dukungan pemerintah agar produktivitas petani semakin meningkat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Efendy

Tags

Terkini

Bang Japar Meneguhkan Komitmen Jaga Jakarta

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:51 WIB
X