Jumat, 28 Agustus 2026

Amran Sulaiman Bantah Harga Beras Naik Gara-Gara Bulog Serap Gabah: Itu Permainan Harga Middle Man

Photo Author
Efendy, Rakyat Sultra
- Kamis, 23 Oktober 2025 | 09:09 WIB
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman. (Dok. Bapanas)
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman. (Dok. Bapanas)

Jakarta, Rakyatsultra.id - Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menepis anggapan bahwa kenaikan harga beras disebabkan oleh penyerapan gabah yang dilakukan Perum Bulog.

Ia menegaskan, langkah Bulog justru menjadi bentuk keberpihakan pemerintah kepada petani untuk menjaga harga.

“Perintah Bapak Presiden Prabowo itu gabah Rp 6.500 per kilogram. Tapi tidak semuanya. Kemampuan Bulog hanya sekitar 8 persen. Makanya ada yang bilang harga naik karena Bulog menyerap banyak. Padahal yang diserap cuma 8 persen, sisanya 92 persen oleh swasta,” ujar Amran usai Konferensi Pers Satu Tahun Pembangunan Pertanian, di Jakarta, Rabu (22/10).

Amran menegaskan, pemerintah kini tengah serius mengendalikan fluktuasi harga beras di pasaran. 

 

Langkah intervensi dilakukan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) oleh Bulog, serta pengawasan langsung ke lapangan lewat Satgas Pengendalian Harga Beras 2025 yang baru dibentuk berdasarkan Keputusan Kepala Bapanas Nomor 375 Tahun 2025.

“Kami sudah turunkan tim intervensi harga dan intervensi SPHP di daerah-daerah dengan harga tinggi,” ucapnya.

Hingga 20 Oktober 2025, Bulog telah menyerap beras dalam negeri sebesar 3,002 juta ton atau sekitar 8,74 persen dari total produksi nasional yang mencapai 34,34 juta ton.

Capaian tersebut membuat stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) berada di titik tertinggi dalam sejarah.

“Ini salah paham. Dibilang harga naik karena Bulog menyerap banyak, padahal stok CBP kita justru tertinggi sejak 1969. Atas perintah Presiden, tahun ini kita ditargetkan bisa mencapai 4,2 juta ton pada Juni,” tambah Amran.

Menurut dia, faktor yang membuat harga beras di pasaran masih di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) bukan disebabkan kebijakan pemerintah, melainkan adanya permainan di rantai pasok.

“Ini bukan sekadar mekanisme pasar. Di tengahnya ada middle man yang memainkan harga dan tidak mencintai merah putih,” tegasnya.

Amran mencontohkan, situasi ini mirip dengan kelangkaan minyak goreng beberapa waktu lalu, ketika harga sempat melonjak padahal pasokan nasional berlimpah. “Sama seperti beras. FAO dan BPS mencatat, produksi beras Indonesia tahun ini sangat tinggi,” imbuhnya.

Pemerintah, lanjut Amran, akan bersikap tegas terhadap para pelaku yang mempermainkan harga pangan.

“Sekarang sudah ada fakta, sudah ada bukti. Pupuk, tersangka puluhan. Beras, 41 tersangka. Tidak ada kompromi bagi pelaku kejahatan terhadap hajat hidup orang banyak,” tegasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Efendy

Tags

Terkini

Bang Japar Meneguhkan Komitmen Jaga Jakarta

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:51 WIB
X