Jakarta,RakyatSultra.id- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyampaikan bahwa sebanyak 20 juta ton sampah per tahun bocor ke laut. Angka tersebut berasal dari 16 ton berasal dari sampah darat, dan 4 juta ton sisanya dari kegiatan laut.
"Itu kurang lebih 16 juta ton sampah darat itu masuk ke laut. Kemudian sampah laut sendiri dari aktivitas laut itu kurang lebih 20 persen atau 4 juta ton. Jadi ada kurang lebih 20 juta ton sampah laut yang harus ditangani per tahun," kata Direktur Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Ahmad Aris dalam Media Gathering di Hotel Aryaduta, Jakarta, Jumat (1/8).
Lebih lanjut, Aris membeberkan soal dampak negatif dari bocornya sampah ke laut ini. Pertama, jika sampah yang bocor ke laut adalah sampah organik, maka akan terjadi eutrofikasi atau kondisi alga berlebih.
"Jadi matinya plankton-plankton. Yang kedua dengan sampah masuk ke laut itu menyebabkan biota itu kena mikroplastik. Jadi ikan-ikan yang kita konsumsi itu berbahaya. Itu mikroplastik sangat berbahaya," lanjutnya.
Tak hanya itu, banyaknya sampah yang bocor ke laut juga dapat berdampak pada rusaknya ekosistem pesisir. Mulai dari karang, lamun dan mangrove karena mereka akan tertimbun sehingga mengurangi kebutuhan oksigen mereka.
Selain itu juga terhadap biota, menurut Aris, bocornya sampah ke laut bisa membuat biota-biota laut mati hingga terdampar di pesisir. "Hiu, paus dan sebagainya terdampar akibat mengonsumsi plastik. Sehingga menyebabkan dia mati. Jadi dampaknya ini luar biasa," jelas dia.
Adapun dampak yang paling luar biasa, ekosistem pesisir akan rusak dan hancur, sehingga sumber daya perikanan dan aktivitas pariwisata tidak akan berkelanjutan.