Jumat, 28 Agustus 2026

Ibas Ajak ASEAN Bersatu untuk Menghadapi Tantangan Besar Masa Depan Dunia

Photo Author
Sitti Asnawati, Rakyat Sultra
- Jumat, 2 Mei 2025 | 12:43 WIB
Edhie Baskoro Ketua FPD DPR RI ketika menjadi Guest Lecture di Universiti Malaya, dengan Topik “Navigating a Changing World: ASEAN’s Path to Stability and Prosperity”, di Auditorium Faculty of Busines
Edhie Baskoro Ketua FPD DPR RI ketika menjadi Guest Lecture di Universiti Malaya, dengan Topik “Navigating a Changing World: ASEAN’s Path to Stability and Prosperity”, di Auditorium Faculty of Busines

 Jakarta,Rakyatsultra.id - Wakil Ketua MPR RI dari Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menyoroti dua tantangan besar masa depan dunia yaitu kecerdasan buatan (AI) dan perubahan iklim.

Menurut Ibas, pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan tidak boleh dipisahkan, dengan mendorong ekonomi hijau sebagai solusi masa depan yang menciptakan lapangan kerja, menjaga ekosistem.

Oleh karena itu, ibas mengajak seluruh pihak memperkuat solidaritas kawasan ASEAN dalam menghadapi krisis iklim lintas batas.

Dia menekankan pentingnya adaptasi terhadap transformasi teknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan Asia Tenggara, serta menyerukan kerja sama internasional untuk pemanfaatan AI yang etis.

Hal tersebut disampaikan Edhie Baskoro Ketua FPD DPR RI ketika menjadi Guest Lecture di Universiti Malaya, dengan Topik “Navigating a Changing World: ASEAN’s Path to Stability and Prosperity”, di Auditorium Faculty of Business & Economics baru-baru ini.

"Kecerdasan buatan (AI) dan perubahan iklim. Mungkin tampak sangat berbeda, yang satu tentang teknologi, yang lain tentang lingkungan, tapi keduanya sangat besar dan mengharuskan kita untuk bersiap,” ungkap Ibas.

 
 

Wakil Ketua Umum Partai demokrat itu pun menyampaikan realita bahwa sejumlah pekerjaan akan berubah bentuk, beberapa bahkan menghilang.

Oleh karena itu, masyarakat harus siap menghadapi transformasi ini dengan keterampilan baru dan kesiapan beradaptasi.

“Kita memiliki apa yang disebut nilai, identitas, nilai komunitas, dan tentu empati khas Asia Tenggara yang tidak dapat dimiliki oleh robot dan AI. Jadi, kita dapat merancang dan menggunakan kebutuhan AI dengan cara yang mengutamakan manusia.”

Ibas melanjutkan ASEAN dapat bekerja sama menetapkan pedoman, etika teknologi untuk penggunaan AI yang etis.

"Dengan bersikap kooperatif dan kreatif, kita dapat mengubah AI menjadi peluang, bukan ancaman,” tegasnya.

 

Ibas menambahkan Malaysia dan Indonesia telah mengambil beberapa langkah positif, seperti larangan plastik sekali pakai di Malaysia dan tindakan hukum pembakaran hutan ilegal di Indonesia, serta penanaman 2 miliar pohon.

“Indonesia dan Malaysia juga merupakan bagian dari Perjanjian Paris. Malaysia dan Indonesia telah berjanji untuk meningkatkan energi terbarukan, menggunakan dan mencapai status netral karbon sekitar pertengahan abad ini," ujar dia.

Negara-negara Asia, khususnya ASEAN juga harus saling membantu tetap berpegang pada komitmen hijau. “Bahkan mungkin menyiapkan kerangka kerja regional untuk untuk tanggap bencana dan perlindungan lingkungan. Yang lebih penting, kita harus melihat perjuangan melawan perubahan iklim bukan hanya sebagai beban, tetapi juga sebagai peluang.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sitti Asnawati

Tags

Terkini

Bang Japar Meneguhkan Komitmen Jaga Jakarta

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:51 WIB
X