Haeruddin C Maddi.
KENDARI - Usai membangun dua Kolam Retensi di Kecamatan Baruga. BWS Sulawesi IV Kendari kembali menawarkan desain sistem pengendali banjir kota ke Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari.
Kepala BWS Sulawesi IV, Haeruddin C Maddi mengungkapkan, sistem pengendali banjir Kota Kendari ini diberi nama "Desain Drainase Utama Pengendalian Banjir Kota"
"Sebenarnya kalau kita bicara banjir itu, saya selalu bicara satu sistem pengendali banjir. Untuk sementara ini memang kita masih membantu kota mengendalikan banjir. Tetapi saya sudah bicara dengan pak wali kota, mungkin ke depan kita ada semacam MoU "siapa berbuat apa" mungkin sistem pengendali banjir itu dikendalikan oleh BWS sehingga nanti bukan hanya Sungai Wanggu tetapi juga sungai-sungai lain yang berpengaruh terhadap sistem pengendali banjir kota. Seperti Sungai Lepolepo, Kadia, Korumba dan sungai-sungai besar yang lain," ungkapnya, Jumat (4/9/2021) kepada awak media.
Menurutnya, hal ini perlu segera direalisasikan dengan menjadikan 13 sungai yang ada di Kota Kendari menjadi drainase induk. Namun, untuk menjalankannya harus mendapat dukungan dari pemerintah kota.
"Menurut saya ini perlu segera kita sentuh mungkin ada yang harus kita buka kan kolam-kolam kecil. Nah, tahun ini kita sudah selesai desain, satu sistem pengendali banjir Kota Kendari.
"Desain Drainase Utama Pengendali Banjir Kota". Jadi harapan saya sebenarnya cukup sederhana, jadi sungai-sungai yang saya sebutkan 13 itu anggaplah kita jadikan seperti drainae induk. Jadi semua akan melempar kesitu sehingga muaranya satu kali ke laut. Kalau saya lihat Kota Kendari mirip Kota Semarang, jadi ada atas dan ada di bawah. Nah, di bawah ini (hilir) berpotensi memang, disamping curah hujan berpotensi menyebabkan banjir, juga ditambah dengan back water (air pasang) dari laut. Bayangkan di Lepolepo itu back waternya sampai 2 kilometer ke atas," terang Haeduddin.
Sehingga, sambung dia, kota-kota seperti ini, memang cukup kompleks pemasalahan banjirnya kedepan, sehingga memang sudah harus difikirkan oleh pemerintah.
"Makanya saya koordinasi dengan pak Wali yang perlu kita buka, kita buka segera. Mumpung penduduknya belum padat, karena kalau sudah padat kita buka itu akan bersingungan dengan masyarakat terkait pembebasan lahan yang mungkin cukup tinggi, masih mending bisa dibebaskan, ada yang sudah tidak bisa kita bebaskan," terang Haeruddin.
"Nah kombinasi seperti inilah nanti yang kita lakukan. Sebenarnya air itu mau ketempat yang lebih rendah, karena terjadi penyempitan alur sehingga dia (air) meluber ke mana-mana. Terus ada juga sungai drainae induk kota tidak bisa lagi kita buka karena padat. Mungkin ada lokasi lain kita bukakan folder atau tangkapan-tangkapan kecil seperti Kolam Retensi tapi kapasitasnya kecil. Mungkin juga kita tambah tanggulnya agar lebih tinggi. Jadi kombinasi ini memang harus di studi dulu. Jadi masih ada pilihan-pilihan kedepan menyangkut tata ruang," paparnya.
Tujuan saya bagaimana mereduksi banjir tahunan dulu, tidak setiap tahun banjir. Contoh seperti di Lamuse (Wanggu), memang saya sejak pertama datang, saya merasa kasian juga masyrakat setiap tahun harus buat tenda. Alhamdulillah tahnn ini meskipuun mereka buat tenda, saya kira sudah tidak beirisi, karena dulu yang menenggelamkan Lamuse itu sudah masuk di Kolam (retensi), sehingga kalau kita lihat sistemnya sungai Wanggu itu, sebenarnya bajir tahunan dua tahunan sudah bisa kita atasi," pungkasya.
Sementara itu, menanggapi desain rancangan BWS Sulawesi IV, Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir menuturkan bahwa pihaknya menyambut baik rencana tersebut dan pastinya sebagai pemerintah kota mendukung program tersebut. Apalagi dalam upaya mengatasi banjir di Kota Lulo.
"Kita sudah diskusikan itu. Saya sudah diskusi panjang sama beliau. Alhamdulillah beliau termasuk yang sangat membantu kita di Kota Kendari, termasuk Kolam Retensi dan Insyaallah tahun depan desain untuk waduk pengendali banjir yang di Nanga-nanga," ujar orang nomor satu di Kota Kendari itu.
Wali kota juga mengaku bersyukur, jika tahun sebelumnya Pemkot Kendari yang menanggung pembebasan lahan, namun untuk pembangunan waduk pengendali banjir sepenuhnya ditanggung BWS Sulawesi IV.
"Syukurnya juga nanti balai yang tanggung pembebasan lahan. Jadi sebelum-seblumnya pembangunan itu kita yang beban pembebasan lahan. Ini Insyaallah ditanggunng oleh balai. Jadi kita membantu saja advokasinya kepada masyarakat. Supaya masyarakat clear nanti tanah-tanah yang dibebaskan itu. Itu yang menjadi tugas kita dan itu sementara berjalan sekarang," pungkas wali kota.(r6/b/aji)