metropolis

STQH Nasional XXVIII di Sutra Jadi Tonggak Baru Pelestarian Lingkungan Hidup Berdasarkan Nilai-Nilai Keislaman

Senin, 20 Oktober 2025 | 18:00 WIB
Suasana Penutup STQH Nasional di Sultra (Biro Adpim).

*Mendekap Bumi Melalui Ekoteologi

Kendari, Rakyatsultra.id – Seleksi Tilawatil Quran dan Hadist (STQH) Nasional ke-XXVIII yang berlangsung dari tanggal 9-19 Oktober 2025 di Sulawesi Tenggara baru saja berakhir. Perhelatan akbar event Islami itu bertemakan Syiar Al-Qur’an dan Hadis, Merawat Kerukunan dan Melestarikan Lingkungan,  memberikan suatu harapan baru, dampak positif, dan pelaksanaan pelestarian lingkungan hidup dan implementasi prinsip-prinsip hidup berkelanjutan, di provinsi yang terkenal dengan pertambangan nikelnya ini.

Seperti memberikan sinyal bahwa sektor lingkungan hidup semakin menjadi program prioritas, Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka, pada saat upacara penutupan STQH Nasional XXVIII, Sabtu (18/10/2025) malam. 

“Jadi kita sudah tahu di dalam agama Islam sudah memperingatkan kita mengenai pentingnya lingkungan hidup, karenanya kita ingin menyiarkan hal ini ke masyarakat. Ke depannya kita akan melakukan revitalisasi, tempat-tempat yang memiliki dampak ekonomi," katanya. 

Menciptakan dampak positif bagi lingkungan hidup serta menerapkan prinsip hidup berkelanjutan, tidaklah harus dimulai dari hal-hal besar. Namun, justru dari hal-hal kecil dalam keseharian, bisa menciptakan dampak positif signifikan bagi lingkungan hidup.

“Menerapkan hal-hal kecil hidup berkelanjutan bisa dilakukan dalam keseharian. Misalnya dengan tidak melakukan fast fashion atau membuang pakaian yang 80% masih layak pakai hanya karena perubahan tren fesyen. Mulailah dengan hal-hal kecil seperti ini untuk perlahan menciptakan dampak positif bagi lingkungan hidup yang lebih besar,” ucap Amanda Katili, Director The Climate Reality Project Indonesia sekaligus pengarang buku Dalam Dekapan Zaman Memoar Pegiat Harmoni Bumi dalam program siniar terbarunya Light Vibes from Amanda di Youtube, dalam kesempatan terpisah.

Dikenal sebagai salah satu provinsi penghasil nikel terbesar di dunia, tentunya konsistensi dalam menerapkan prinsip hidup berkelanjutan baik dalam keseharian maupun dalam pergerakan roda perekonomian, merupakan suatu tantangan baru bagi Sultra. Masih adanya mafia pertambangan, juga semakin menyulitkan penerapan prinsip hidup berkelanjutan sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau juga dikenal dengan sebutan Sustainable Development Goals (SDG) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Menurut data dari kementerian ESDM, saat ini luas lahan pertambangan di Sulawesi Tenggara mencapai 198.624,66 hektare, menjadikannya daerah penghasil nikel terluas di Indonesia. Luas total lahan yang memiliki potensi tambang diperkirakan mencapai 2.171.490 hektare atau sekitar 56,94% dari luas wilayah provinsi. Tentunya penerapan prinsip-prinsip berkelanjutan menjadi tantangan juga kesempatan bagi provinsi Sulawesi Tenggara.

Malam suasana penutup STQH Nasional ke XXVIII

Ekoteologi adalah konsep beragama yang mendekatkan penganutnya dengan alam lingkungan dengan maksud untuk lebih memahami hubungan positif timbal balik. Dalam ajaran Islam, mengenal adanya tiga hubungan, Hablun Minallah, Hablun Minannas dan Hablun Minal Alam’ (hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan manusia, hubungan dengan alam).

Pada Hablun Minal Alam’ manusia adalah bagian dari alam semesta maka wajib untuk menjaga hubungan baik dengan alam lingkungannya, bahkan dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 30: “Sesungguhnya Aku menjadikan manusia sebagai khalifah”. Jelaslah bahwa sebagai khalifah, manusia harus mampu menjaga lingkungan hidupnya.

Tentunya momentum STQH dalam berfokus pada lingkungan hidup serta dampak positif yang dibuatnya, harus terus dijaga dan dilakukan secara berkelanjutan. Sehingga walaupun Sulawesi Tenggara dikenal luas sebagai provinsi pertambangan nikel, tetapi dampak positif dari penerapan prinsip-prinsip berkelanjutan tetap dapat dirasakan oleh semua pemegang kebijakan baik dari pihak pemerintah, perusahaan swasta bahkan sampai ke masyarakat asli suku adat. 

“Terus konsisten melakukan hal-hal kecil kebaikan bagi lingkungan hidup, dimulai dari keseharian dan kehidupan di dalam rumah sehingga krisis iklim bisa dimitigasi dan tidak terjadi dampak buruk yang tentunya kita hindari bagi anak cucu kita, tutup Amanda.*

Tags

Terkini