- Anggaran Rp 779,2 Miliar - Simbol Perekat Dua Golongan
Laporan: H. Abdul Haliq, Ambon
Menginjakkan kaki kembali di Kota Ambon kali ini sangatlah jauh berbeda dengan tahun 2010 lalu. Banyak perubahan yang mencolok. Dulunya pemukiman masyarakat masih lapang dari bandara menuju pusat kota. Kini semakin padat. Disana-sini sudah terbangun perkantoran yang megah. Ada dua pusat perbelanjaan besar, Matahari dan Hypermart. Belum lagi saat ini sementara dilakukan pembangunan Rumah Sakit Siloam, sehingga membuat kota Ambon semakin maju pesat.
Dulunya, jika kita dari Bandara Pattimura yang masuk wilayah Lei Hitu, Maluku Tengah di Utara menuju Pusat Kota Ambon yang ada di wilayah Lei Timur di Selatan, dengan jarak 35 kilometer dan waktu tempuh bisa 60 menit dengan memutari teluk Ambon atau altenatif lain dengan menggunakan kapal penyeberangan Fery. Antara desa Rumah Tiga dan Galala dengan waktu 20 menit, tapi antrinya minta ampun. Namun kini dari bandara Pattimura ke pusat kota dapat dicapai dalam waktu 15 menit, berkat keberadaan Jembatan Merah Putih.
Jembatan Merah Putih salah satu ikon baru yang ada di provinsi Maluku, merupakan Jembatan kabel pancang terletak di Kota Ambon. Jembatan ini membentangi Teluk dalam Pulau Ambon, yang menghubungkan desa Rumah Tiga (Poka) di Kecamatan Sirimau pada sisi utara dan Desa Hative Kecil/Galala di Kecamatan Teluk Ambon pada sisi selatan. Jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia Timur, menjadi bagian dari keseluruhan tata ruang Kota Ambon.
Dibangun sejak 17 Juli 2011, Jembatan Merah Putih menelan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp 779,2 miliar. Dan Jembatan ini baru diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo, 4 April 2016 lalu.
Teluk Ambon adalah teluk sempit yang dalam. Dan Pulau Ambon juga merupakan kawasan yang rawan gempa tektonik karena itulah kostruksi jembatan ini harus memperhitungkan kondisi geografi dan geologi area itu.
Secara teknis panjang jembatan ini adalah 1.140 meter yang terbagi ke dalam tiga bagian. Masing-masing, Jembatan Pendekat di sisi Desa Poka (sisi utara) sepanjang 520 meter, Jembatan Pendekat di sisi Desa Galala (sisi selatan) sepanjang 320 meter, dan Jembatan Utama sepanjang 300 meter.
Jembatan Utama ini merupakan tipe jembatan khusus dengan sistem beruji kabel atau cable stayed, dengan jarak antar pilon sepanjang 150 meter.
Nama jembatan ini adalah berdasarkan Bendera Merah Putih, bendera kebangsaan Indonesia. Akan tetapi ada makna lain di balik penamaan jembatan ini. Ketika terjadinya konflik sektarian di Maluku pada kurun 1999 sampai 2002, golongan Kristen disebut sebagai "golongan merah", sementara golongan Muslim disebut "golongan putih". Jembatan ini menjadi simbol perdamaian, persatuan serta lambang kebersamaan antar warga Maluku. (***)