metropolis

Waspada, Bandar Narkoba Makin Pandai

Jumat, 8 April 2016 | 14:09 WIB
Ilustrasi

*Pemasok di Sultra Asal Makassar *Sasar Aparat dan Pelajar

KENDARI - Pemberantasan narkotika dan obat-obatan (Narkoba) di Provinsi Sulawesi Tenggara makin gencar dilakukan. Namun, bandar narkoba tak kehabisan akal untuk terus mengedarkan barang haram itu.

Bahkan, bandar narkoba sudah menyisir para pelajar dan mahasiswa. Berdasarkan data yang dirilis, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sultra, angka peredaran narkoba tertinggi ada pada tingkat pelajar dan mahasiswa. Jumlahnya mencapai 17.139 orang.

“Pengguna narkoba di Sultra seluruhnya sudah menyentuh angka 26.367 orang. Sebesar 65 persen atau 17.139 orang dari jumlah tersebut masih berstatus pelajar atau mahasiswa,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sultra, Kombes Pol Fauzan Djamal.

Bukan hanya pelajar dan mahasiswa, bandar narkoba juga sudah menyasar ibu-ibu rumah tangga hingga kalangan pekerja. Bahkan, aparat penegak hukum sekalipun, ikut menjadi target peredaran narkoba.

Kamis (7/4), dua oknum anggota Polres Muna, positif menggunakan narkoba. Hal itu diketahui ketika tim DVI Polda Sultra bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Muna melakukan tes urine.

Merajalelanya peredaran narkoba di Sultra, karena akses masuknya sangat mudah. Berbagai macam pintu masuk Sultra, kadang luput dari petugas. Rupanya, pemasok narkoba di Sultra kebanyakan bandar asal Sulawesi Selatan. Itu terungkap dari pengakuan salah seorang bandar sekaligus pengedar yang berhasil di tangkap polisi beberapa waktu lalu. Kepala BNNP Sultra, Kombes Pol Fauzan Jamal mengungkapkan, para bandar yang ada di sultra dikirimkan melalui jalur udara oleh salah satu bandar yang ada di Makassar. “Yang terbaru kita dapatkan itu mengakunya memang jalur penyeberangannya melalui udara, namun ada juga dari jalur darat lewat mobil ekspedisi dan ada juga dari jalur laut diedarkan melalui para nelayan,” bebernya.

Dia mengatakan, antara bandar kebanyakan tidak saling mengenal. Pada umumnya, mereka menghindari transaksi secara langsung. Komunikasi dilakukan via telepon, lalu kemudian pembayaran melalui ATM pribadi setelah ada kesepakatan.

“Setelah itu baru dikirimkan barangnya, yang disini tinggal tunggu barangnya. Entah itu lewat kargo atau ditunggu ditempat-tempat tertentu yang jarang orang ketahui,” ungkapnya. Kebanyakan, para bandar di Sultra mengedarkan barang haram itu melalaui pengedar. Mereka menggunakan orang-orang tertentu yang tidak terdeteksi. Bahkan, terbaru, sistem pengendalian peredaran narkoba di daerah menggunakan sistem tempel pada batang pohon dan tempat tertentu lainnya.

Para pengedar, hanya mengikuti perintah bandar. Pengedarpun diarahkan menggunakan sistem tempel dalam mengedarkan narkoba kepada pengguna.

Menurut Fauzan Djamal, cara pengedar menempelkan narkoba yang dipesan pengguna pada batang pohon atau tempat-tempat tertentu seperti tempat pembuangan sampah sesuai perintah sang bandar. Biasanya, perintah itu masuk melalui telepon atau sms.

Fauzan mengakui, cara itu cukup membuat petugas BNNP kewalahan. Bahkan, cara itu baru diketahui setelah salah satu pengedar berhasil ditangkap beberapa waktu lalu. Pengedar itu, mendapat paket narkoba melalui jasa pengiriman udara dari Makassar.

BNNP terus melakukan upaya pemberantasan narkoba. Upaya itu dilakukan melalui operasi Bersinar tahun 2016. Rencananya, BNNP Sultra akan menyisir seluruh instansi pemerintah maupun swasta untuk melakukan tes urine.

Fauzan menambahkan, hasil pengungkapan kasus narkoba selama tahun 2016, ada 7 kasus narkoba. Sedangkan yang sudah dinyatakan p21 (lengkap) sudah 3 kasus. (rs)

Tags

Terkini