Tujuh hari sudah, Rifki (1), pasien yang mengidap penyakit Hydrocephalus terkulai lemas di Rumah Sakit (RS) Bahteramas Kendari. Meski dokter belum menjanjikan kesembuhan, kakek dan neneknya, Abdul Latif (54) dan Dahlia (51), tetap merasa harapan untuk kesembuhan sang cucu tetap ada sehingga bisa tumbuh sehat layaknya anak-anak lainnya.
Selama di rawat di RS Bahteramas, Rifki mendapat penanganan khusus. Setiap hari, dokter selalu datang mengecek kondisi kesehatan bayi asal Kabupaten Bombana itu. Alhamdulillah, kondisi Rifki semakin membaik. Cairan yang ada di kepala Rifki, perlahan mulai berkurang. Meski begitu, bayi yang ditinggal ibunya sejak 9 bulan lalu itu harus tetap di rujuk ke Makassar agar bisa mendapatkan penanganan yang lebih baik. Kemarin, Senin (18/4), dokter telah memberikan isyarat perkembangan kesehatan Rifki semakin membaik. Sang kakek menceritakan, dokter yang memeriksa Rifki memberikan harapan jika kondisi kesehatannya semakin membaik. Perkembangan kesehatan itu ditulis dalam secarik kertas. “Cairan yang ada di kepala sudah berkurang sekitar 20 cc dari 80 cc,” tuturnya. Meski begitu, Rifki harus tetap dioperasi. Sehingga cairan yang ada di kepalanya bisa benar-benar hilang. Untuk operasi itu, tidak bisa dilakukan di RS Bahteramas. Operasi hanya bisa dilakukan di Makassar, melalui rumah sakit dengan peralatan yang lengkap. Kondisi ruangan Mawar 2, tempat Rifki di rawat, kemarin, Senin (18/4), sedikit berbeda dari hari sebelumnya yang tampak lebih tegang. Kakek dan nenek yang menjaga Rifki terlihat sedikit lebih santai. Aura di wajahnya, menggambarkan seolah-olah tanda kesembuhan sang cucu semakin dekat. Wajah lesu selama merawat Rifki, tiba-tiba berubah sekitar pukul 13.00 Wita, Senin (18/4). Saat itu, seorang perawat datang membawa sepucuk surat yang masih terbungkus rapi didalam amplop surat. Pria yang berprofesi sebagai nelayan itu, bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri perawat itu. Namun, sang perawat tak banyak bicara. Usai menyerahkan surat, perawat itupun angsung beranjak dari ruang perawatan Rifki. Saat membuka amplop, wajah cerah Abdul Latif semakin nampak. Ia merasa ada harapan untuk kesembuhan sang cucu. Meskipun operasi sebagai jalan satu-satunya tetap harus dilakukan. Apalagi, jadwal keberangkatan Rifki yang sudah ditunggu-tunggu segera tiba. Anak yang ditinggal ayah dan ibunya itu, dijadwalkan akan berangkat ke Makassar pada 25 April 2016 mendatang. Disana, Rifki akan berjuang melawan penyakit Hydrocephalus yang dideritanya sejak berusia dua bulan itu. Kini, bantuan untuk meringankan beban penderitaan Rifki terus mengalir. Melalui Dompet Peduli Rifki yang digagas Harian Rakyat Sultra, bantuan terus mengalir. Hasil penggalangan dana itu, kelak akan diserahkan kepada keluarga Rifki sehingga bisa digunakan untuk biaya pengobatan. Hydrocephalus seperti yang dialami Rifki merupakan penumpukan cairan di otak, sehingga mengakibatkan kepala membesar. Operasi mengeluarkan cairan yang ada di otak, hanya bisa dilakukan jika kondisi umum pasien membaik. Rifki merupakan seorang bayi yang ditinggal ayah dan ibunya. Kedua orang tuanya tak bisa menerima kondisi Rifki yang menderita Hydrocephalus. Bahkan, Rifki nyaris diserahkan kepada orang lain oleh ibunya, Resti (30-an). Beruntung kakek dan neneknya siap membesarkan Rifki sekalipun dalam kondisi sakit. Saat pertama menderita penyakit itu, kedua orang tua Rifki sempat membawanya ke dukun. Setelah beberapa bulan bergerilya mencari dukun, kondisinya semakin memburuk. Sehingga Rifki dititipkan kepada kakek dan neneknya. (***)