Jumat, 28 Agustus 2026

Fajar Group Tertarik Pengolahan Gas Metan

Photo Author
Administrator, Rakyat Sultra
- Minggu, 13 Desember 2015 | 20:17 WIB
Direktur Utama PT Media Fajar Holding, Syamsu Nur, Komisaris H Andi Syaifuddin Makka, didampingi para rombongan, saat bersilaturahim bersama Wali Kota Kendari, DR H Asrun MEng Sc, Jumat (11/12).
Direktur Utama PT Media Fajar Holding, Syamsu Nur, Komisaris H Andi Syaifuddin Makka, didampingi para rombongan, saat bersilaturahim bersama Wali Kota Kendari, DR H Asrun MEng Sc, Jumat (11/12).

-
Direktur Utama PT Media Fajar Holding, Syamsu Nur, Komisaris H Andi Syaifuddin Makka, didampingi para rombongan, saat bersilaturahim bersama Wali Kota Kendari, DR H Asrun MEng Sc, Jumat (11/12).

KENDARI - Kesuksesan pengolahan sampah menjadi gas metan, tidak hanya menghantarkan Kota Kendari meraih banyak penghargaan, namun juga mampu menarik perhatian banyak kalangan. Salah satunya datang dari Direktur Utama PT Media Fajar Holding, H Syamsu Nur bersama rombongan.

Para pimpinan media Fajar Group tersebut menyempatkan melihat langsung Tempat Pengolahan Akhir Sampah (TPAS) Puwatu, kemudian dilanjutkan dengan silaturahim bersama Wali Kota Kendari, DR Ir H Asrun MENG Sc, Jumat (11/12).

Dihadapan rombongan, Ir Asrun menerangkan, jika asal mula pemanfaatan gas metan tersebut berawal dari UU yang mengamanahkan agar TPAS harus tertutup setiap kali membuang sampah. Ketika melakukan hal tersebut, tentu yang dihasilkan adalah gas metan dan bukan lagi CO2.

“Nah, pembuangan gas metan ini kan menjadi sia-sia karena terbakar percuma, tanpa dimanfaatkan lebih dahulu. Apalagi gas metan ini sama dengan premium lainnya yang bisa dimanfaatkan. Olehnya kita coba mengubahnya menghasilkan gas metan, sehingga bisa langsung menjadi bahan bakar genset. Percobaan inilah yang membuat kagum Kementerian ESDM karena langsung bisa difungsikan, dan bisa membantu masyarakat disekitar kawasan TPAS," jelasnya. Dari pemanfaatan gas metan inilah, kemudian berkembang menjadi kawasan mandiri energi yang bebas dari PLN, sebab penerangan jalan, pemukiman, hingga kompor gas menggunakan gas metan. "Jadi di kawasan ini, meskipun listrik PLN padam, tetapi tetap menyala. Dan pemanfaatan gas metannya gratis. Terus terang, pengolahan sampah menjadi gas metan bisa dipelajari dan diterapkan oleh siapa saja. Berangkat dari upaya inilah sehingga kami mendapatkan award," ucapnya.

Untuk melakukan percobaan tersebut, pihaknya harus menggunakan dana pribadi guna menghindari berurusan dengan aparat hukum, sebab jika menggunakan dana pemerintah untuk membeli mesin lalu kemudian diotak atik dan terjadi kegagalan, maka akan mengalami kesulitan saat melakukan pertanggungjawaban. “Tetapi kalau kita beli sendiri, dan terjadi kegagalan, maka kita tidak perlu mempertanggungjawabkan,” ujarnya.

Meskipun pengolahan gas metan terbilang berhasil, namun pihaknya masih mendapatkan kendala cukup berarti, yakni terkait pengemasan gas metan. Mengingat selama ini untuk dibawa ke luar TPAS, gas metan harus dimasukan ke dalam ban, itupun untuk satu hingga dua hari pemakaian saja.

Untuk itu, lanjut Asrun, pihaknya menantang Kementerian ESDM terkait pengemasan gas metan, sehingga bisa didistribusikan kepada masyarakat luas, apalagi untuk bahan baku utama berupa sampah tidak akan pernah ada habisnya.

Tidak berhenti disitu saja, setelah di TPAS pihaknya pun memperbanyak duplikat-duplikat TPAS Puuwatu disejumlah tempat, diantaranya di kawasan Paddys Market, sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat pedagang, sekaligus sosialisasi terhadap pengolahan sampah di Kota Kendari.

Kesempatan itu juga diungkapkan, jika Kota Kendari termasuk satu-satunya peraih Adipura Kencana untuk kategori kota sedang, dan termasuk satu dari tiga penerima adipura kencana secara nasional.

Sementara itu, Direktur Utama PT Media Fajar Holding, H Syamsu Nur, didampingi Komisaris H Andi Syaifuddin Makka, mengakui, jika proses yang dilakukan tersebut sangat sederhana, bahkan pemanfaatannya pun bisa menggerakkan mesin mobil.

"Kalau perlu Ahok ke sini agar bisa belajar tentang sampah. Kalau caranya seperti Pak Wali mengolah sampah, pasti tidak akan ada protes, bahkan berterimkasih karena masyarakat mendapatkan gas. Barangkali Ahok bisa datang ke sini untuk belajar,” ucapnya. **

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Administrator

Terkini

Terpopuler

X