KENDARI, rakyatsultra.id - Dalam meningkatkan dan penguatan literasi masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra), Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara menyelenggarakan Pesta Literasi Sultra (Pelita) 2023 yang dilaksanakan dari tanggal 22-23 Agustus di Kantor Bahasa Sultra.
Kepala Kantor Bahasa Sultra Dr Uniawati mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan untuk membangun kolaborasi yang lebih luas dan lebih masihlf dalam rangka menggemakan program-program prioritas badan pengembangan dan pembinaan bahasa.
Pesta literasi Sulawesi Tenggara yang pihaknya laksanakan merupakan bentuk dari prioritas badan pengembangan dan pembinaan bahasa yang terkait dengan literasi kebahasaan dan kesastraan serta perlindungan bahasa daerah.
"Kesastraan dan perlindungan bahasa daerah hakikatnya bukan jadi tugas dan tanggung jawab kami saja melainkan tugas kita bersama. Berdasarkan pemetaan bahasa yang telah kantor bahasa lakukan terdapat 15 jumlah bahasa daerah yang ada di Sulawesi Tenggara yang terdiri atas 9 bahasa daerah asli dan 6 bahasa daerah pendatang. Khusus sembilan bahasa daerah asli 7 diantaranya berstatus terancam punah, kondisi itu tentu sangat mengkhawatirkan jika vitalitas besar tersebut kian mengalami penurunan," tuturnya.
Ia juga mengatakan, festival literasi Sulawesi Tenggara yang dilaksanakan tahun ini diharapkan dapat mendorong kesadaran seluruh lapisan masyarakat tentang pentingnya perlindungan bahasa melalui gerakan literasi bersama.
"Untuk itu kami membuka ruang kepada semua generasi Sulawesi Tenggara agar agar mengenal bahasa daerahnya sendiri melalui berbagai lomba mulai dari lomba mendongeng berbahasa daerah Tolaki Pada tingkat SD dan MI sederajat lomba pidato Bahasa Muna untuk tingkat SMP dan MTs sederajat lomba nyanyian bahasa daerah Wolio tingkat SMA sederajat lomba baca puisi tingkat mahasiswa dan kampanye moral bekerja sama dengan bagian seni Provinsi Sulawesi Tenggara," jelasnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi Sultra Abdurrahman Shaleh mengatakan, ada tiga poin yang ingin ia sampaikan pada festival literasi tersebut yakni agar terus berbenah berbenah dengan minat baca literasi dan menghargai bahasa karena hal ini semakin punah.
Kemudian melakukan kolaborasi terhadap instansi vertikal horizontal dan semua Lini Lini yang ada sehingga mengintropeksi kekurangan kekurangan agar bisa menumbuhkembangkan bahasa. Karena bahasa sekarang sudah mulai berkembang kemajuan termasuk dengan bahasa Indonesia.
"Ketika Hero Ana mengatakan tulang-tulang berserakan maka para penyair sekarang ini mengambil tulang-tulang berserakan untuk diangkat kembali semangat hingga mencintai tanah airnya lewat bahasa daerah tanpa menghilangkan rasa identitas keindonesiaan dan tidak sempit berpikir seperti kaca untuk melihat tentang kesukuan yang ada," tuturnya.
Untuk di ketahui pada kegiatan festival literasi tersebut dirangkaikan dengan pemancingan buku Antologi Pusi Nusantara. RS