Jumat, 28 Agustus 2026

Militer AS dan Inggris Lancarkan Serangan Habis-habisan ke Houthi

Photo Author
Efendy, Rakyat Sultra
- Jumat, 12 Januari 2024 | 14:33 WIB
Presiden AS, Joe Biden dan PM Inggris, Rishi Sunak.
Presiden AS, Joe Biden dan PM Inggris, Rishi Sunak.

rakyatsultra.id - Dalam upaya menjaga stabilitas jalur perdagangan internasional di Laut Merah, Amerika Serikat bersama dengan Inggris bekerja sama melancarkan serangan militer ke wilayah Yaman yang dikuasai militan Houthi.

Presiden AS Joe Biden dalam sebuah pernyataan pada Kamis (11/1) menyebut bahwa pasukan Amerika dan Inggris telah dikerahkan bersama dengan dukungan dari negara sekutu lainnya yakni Australia, Bahrain, Kanada, dan Belanda.

"Serangan ini merupakan respons langsung terhadap serangan Houthi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kapal maritim internasional di Laut Merah," jelas Biden, seperti dimuat The Guardian.

Dikatakan Biden, serangan mencakup penggunaan rudal balistik anti-kapal untuk pertama kalinya. Itu dilakukan karena apa yang dilakukan Houthi sudah pada tingkat membahayakan.

"Serangan-serangan ini (Houthi) telah membahayakan personel AS, pelaut sipil, dan mitra kami, membahayakan perdagangan, dan mengancam kebebasan navigasi," tegasnya.

Biden bahkan tidak ragu untuk mengerahkan serangan lebih lanjut ke Yaman jika serangan Houthi terhadap kapal komersial di Laut Merah tidak kunjung dihentikan.

"Saya tidak akan ragu untuk mengarahkan langkah-langkah lebih lanjut untuk melindungi rakyat kami dan arus bebas perdagangan internasional jika diperlukan,” kata dia.

Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak mengkonfirmasi partisipasi Inggris dalam aksi militer tersebut.

“Kami telah mengambil tindakan yang terbatas, perlu dan proporsional dalam membela diri, bersama Amerika Serikat terhadap sasaran yang terkait dengan serangan ini," kata Rishi dalam sebuah pernyataan.

Seorang pejabat administratif AS yang anonim mengatakan bahwa belasan lokasi di Yaman yang dikuasai Houthi telah menjadi sasaran jet tempur dari Angkatan Laut AS, Angkatan Udara AS dan Angkatan Udara Kerajaan, bersama dengan rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari kapal.

“Ini adalah tindakan yang signifikan dan dilakukan dengan tujuan dan harapan bahwa tindakan ini akan menurunkan kemampuan Houthi secara signifikan," kata dia.

Pentagon dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa serangan yang dilancarkan pada Houthi tidak akan mengenai korban sipil.

"Kami sama sekali tidak menargetkan pusat-pusat populasi sipil. Kami mengincar kemampuan yang sangat spesifik dan lokasi yang sangat spesifik dengan amunisi presisi,” tegas seorang pejabat senior militer AS.

Pasukan Houthi mengklaim telah membalas langsung serangan koalisi Barat, namun pejabat militer AS  pada Jumat (12/1) mengatakan bahwa sejauh ini belum ada tanggapan apapun dari militan tersebut.

“Sampai saat ini, kami belum melihat adanya tindakan pembalasan langsung yang ditujukan kepada AS atau anggota koalisi lainnya,” ungkapnya.

AS dan Inggris telah mengerahkan kapal perang di wilayah selatan Laut Merah untuk melindungi perdagangan di salah satu jalur perairan tersibuk di dunia.

Kapal-kapal yang melintas ke dan dari Terusan Suez lebih jauh ke utara menyumbang 15 persen dari perdagangan lintas laut global sebelum serangan Houthi menghalangi banyak orang untuk melakukan perjalanan melalui wilayah tersebut. RMOL/RS

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Efendy

Tags

Terkini

Elon Musk: 20 Tahun Lagi Kerja Cuma jadi Hobi

Sabtu, 22 November 2025 | 20:15 WIB

Trump Ancam Rusia dengan Rudal Tomahawk

Senin, 13 Oktober 2025 | 19:09 WIB

Elon Musk Pamerkan Robot Tesla Optimus

Sabtu, 4 Oktober 2025 | 19:55 WIB

Elon Musk Berpotensi Jadi Triliuner Pertama di Dunia

Sabtu, 6 September 2025 | 21:22 WIB

Mengapa Turki Mulai Produksi Massal Tank Tempur..

Sabtu, 6 September 2025 | 21:05 WIB

Rusia Bakal jadi Penengah Konflik Israel-Iran

Sabtu, 14 Juni 2025 | 14:15 WIB

Terpopuler

X