Sekum PODSI Sultra, Kadir Ole (kiri) saat ditemui awak media di Sekretariat PODSI Sultra. Foto: Herdy/Rakyat Sultra.
KENDARI - Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Olah Raga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) menyayangkan seleksi ulang atlet Dayung yang dilaksanakan oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sultra.
Pedahal, Pengprov PODSI Sultra telah melakukan seleksi dan mendapatkan 43 atlet yang bakal berlaga di PON Papua Oktober nanti.
Sekretaris Umum Pengprov PODSI Sultra, Kadir Ole mengatakan bahwa, sejatinya pelaksanaan seleksi oleh PODSI Sultra telah berlangsung 22 Juni hingga 24 Juni berdasarkan hasil rapat bersama KONI Sultra pada 9 Juni lalu.
"9 Juni PODSI Sultra diberikan kewenangan dan tanggung jawab melaksanakan seleksi atlet Dayung untuk PON dan dilaksanakan tanggal 22 sampai 24 Juni 2021 di Plaza Kubra Kendari dan kami mendapat pesan bahwa seluruh biaya ditanggung oleh KONI. Yang menjadi rambu-rambu (dari KONI Sultra, red) itu, tanggal 25 Juni nama-nama (atlet,red) definitif kuota 43 orang sudah diserahkan," terangnya.
Sementara, lanjut dia, 27 Juni, atlet yang tidak lolos seleksi dipulangkan ke daerah asal masing-masing, sedangkan lolos seleksi selanjutnya di kumpul ke Hotel Blitz untuk kemudian mengikuti traning center jangka panjang oleh KONI Sultra.
Namun, pada 30 Juni Pengprov PODSI Sultra menerima surat dari Satgas KONI Sultra agar PODSI Sultra melakukan seleksi ulang atlet Dayung yang bakal berlaga di PON Papua nanti.
"Tanggal 30 Juni Pengprov PODSI Sultra menerima surat dari Satgas KONI Sultra, surat itu kami terima pukul 12.40 Wita, karena suratnya saya lihat urgen, saya sebagai sekretaris mengundnag pengurus PODSI untuk merapatkan surat yang diberikan, itu kita rapatkan pukul 13.09 Wita. Isi suratnya ini perihal permintaan seleksi ulang, dalam permintaan seleksi ulang ini bahwa KONI Sultra bertekad menciptakan, melahirkan atlet terbaik mewakili Sultra di PON. Dilain pihak KONI merasa ada atlet yang tidak terwakili aspirasinya pada saat pelaksanaan seleksi yaitu atlet yang berada di Muna dan berada di stadion Dayung," terang Kadir kepada media.
Anehnya, sambung Kadir, permintaan seleksi ulang yang diberikan sangatlah singkat. PODSI Sultra, kata Kadir, hanya diberikan waktu 19 jam untuk menyeleksi terhitung sejak menerima surat tersebut. Pasalnya, 1 Juli nama-nama hasil seleksi sudah harus diserahkan ke KONI Sultra.
"Intinya, isi surat itu PODSI Sultra diminta melakukan seleksi, surat kita terima pukul 12.40 Wita (30 Juni, red) meminta melakukan seleksi ulang, tetapi batas waktu yang berikan pada kami yakni tanggal 1 Juli 2021 jam 12 malam ini deadline yang diberikan kepada kita. Artinya kita hanya diberikan waktu 19 jam untuk melakukam seleksi. Kami menjelaskan proses ini, bahwa dalam waktu 19 jam apa yang bisa dilakukan," keluh Kadir.
Tepat di 1 Juli, lanjut Kadir, muncul surat ke dua dari KONI Sultra bahwa KONI akan melakukan seleksi 4 Juli untuk mendapatkan atlet Dayung sesuai hasil peringkat.
"1 juli muncul surat kedua KONI, isinya KONI bertekad menurunkan atlet-atlet terbaik sesuai hasil terbaik berdasarkan peringkat rangking dan nomor jenis perlombaan, pelaksaan seleksi akan dilakukan Minggu 4 Juli, di asrama Dayung," beber Kadir.
Sementara itu, saat dikonfirmasi Komandan Satgas Pelatda PON XX, H. Ashar menjelaskan bahwa seleksi ulang atlet dilakukan, mengigat masih ada sejumlah atlet berprestasi yang tidak mengikuti seleksi yang dilaksanakan oleh PODSI Sultra.
"Kita tes peringkat. Kenapa? yang dibutuhkan itu atlet berprestasi, kontingen Dayung 43 orang (yang ke PON Papua, red). Yang ada sekarang 100 lebih bahkan setelah diperkecil malah ada 60 orang. 60 orang ini kalau tidak punya peringkat bagaimana mau kasih keluar orang yang tidak jelas peringkatnya. Ini kan cabang olahraga terukur artinya catatan waktunya dia star dan finish ada catatan waktunya sehingga tidak ada meragukan bagi kita kalau kita tes peringkat. Karena kita butuh 43 orang terbaik catatan waktunya," terang Ashar.
"Kita sudah sepakat bahwa tanggal 1 Juli kemarin itukan harusnya sudah berakhir karena kita mau masuk Pelatda, traning center itu 1 Juli. Masuk training center 1 Juli sudah tidak menampung yang bukan atlet definitif yang akan ke Papua. Makanya disampaikan bahwa sebelum tanggal 1 sudah ada atlet definitif. PODSI kan tidak mau dites, intinya pihak PODSI tidak mau lagi melaksanakan seleksi, dia mau dia punya hasil harus diterima. Iya benar kalau tidak ada riak-riak itulah yang akan kita terima. Tapi kalau ada riak-riak. Nah, itu yang kita telusuri setelah ditelusuri itu benar masih ada atlet berprestasi tidak masuk namanya, apakah kita mau tutup mata saja?, mau kasih masuk atlet yang tidak jelas prestasinya, bukan itu, ini bukan uang pribadi kita gunakan ini uang daerah yang harus dipertangung jawabkan," pungkas Ashar. (r6/b/aji)