probiz

Kementan Buka-bukaan Soal Gula Petani Tak Laku di Pasaran

Jumat, 12 September 2025 | 07:03 WIB
Gula di pasar tradisional/Net

Jakarta, Rakyatsultra.id - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono buka-bukaan terkait gula milik petani Indonesia yang tidak laku di pasaran.

Sudaryono mengungkapkan, gula petani tidak laku di pasaran, karena bocornya gula rafinasi di pasar yang memiliki harga lebih murah.

"Gula rafinasi itu harganya jauh lebih murah daripada gula konsumsi. Nah kalau gula rafinasi yang lebih murah ini leaking, kan ini namanya kejahatan dong ya," ujar Sudaryono di Jakarta, Kamis (11/9).

Sudaryono menjelaskan gula rafinasi adalah gula yang diperuntukkan khusus untuk industri dan tidak diperjualbelikan di pasar tradisional.

Akan tetapi saat ini, Sudaryono mengaku gula rafinasi yang bocor ke konsumen ternyata banyak ditemukan di pasar tradisional.

Dengan harga gula rafinasi yang lebih murah, maka pedagang mendapat keuntungan lebih saat dijual ke konsumen.

"Ditemukan di banyak pasar. Gula rafinasi itu kan strict, dia kebutuhannya untuk kebutuhan industri saja, makanan dan minuman dan seterusnya ya. Itu kan nggak boleh dijual kiloan kepada masyarakat," ujar dia.

Sudaryono mengatakan pemerintah akan menindak tegas pelaku yang melakukan peredaran gula rafinasi, baik dari pedagang maupun perusahaan yang melakukan gula impor gula rafinasi.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono buka-bukaan terkait gula milik petani Indonesia yang tidak laku di pasaran.

Penindakan itu akan dilakukan melalui beberapa cara mulai dari pengusaha tersebut dimasukkan daftar hitam hingga pidana.

"Petani sudah dirugikan, dan dia ngambil untung dengan cara yang nggak benar. Itu yang harus kita tindak tegas," tegasnya.

Namun demikian, dia belum bisa menyebutkan berapa jumlah kebocoran gula rafinasi yang tersebar di masyarakat.

Sudaryono mengungkapkan, kebocoran atau rembesan penjualan gula rafinasi bagi konsumen telah menimbulkan efek signifikan bagi petani.

"Efeknya adalah gula konsumsi yang diproduksi dari tebu petani yang digiling di pabrik gula, itu serapannya rendah. (Kalau) 100 ribu ton macet (tidak terserap) sehingga kan itu merugikannya ya, merugikan petani," pungkasnya. 

Tags

Terkini