Jakarta,Rakyatsultra.id- Maraknya impor baja murah dari China mengancam industri dalam negeri. Baja impor diketahui berasal dari kelebihan kapasitas global sebesar 632 juta ton, namun memiliki kualitas rendah dan mayoritas tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Dikatakan Anggota Komisi VII DPR RI Iman Adinugraha, masalah ini dikhawatirkan akan berdampak pada ketahanan industri, kesehatan publik, serta keamanan konstruksi dalam negeri.
"Produk-produk baja yang tidak memenuhi SNI dapat menimbulkan risiko bagi proyek-proyek konstruksi, baik infrastruktur maupun bangunan publik, yang pada akhirnya mengancam keselamatan masyarakat,” ujar Iman kepada wartawan, Jumat, 1 November 2024.
Iman menambahkan bahwa produk baja murah ini tidak hanya merusak daya saing industri dalam negeri, tetapi juga meningkatkan risiko kegagalan struktural karena tidak memenuhi standar kualitas.
Selama berjalannya tahun 2024, lanjut legislator Partai Demokrat itu, impor baja dari China mengalami lonjakan signifikan. Produk ini terus masuk ke pasar Indonesia dengan harga murah karena over capacity di negara asal, namun kualitasnya jauh di bawah standar yang seharusnya.
"Jika baja ini digunakan sebagai bahan baku di sektor konstruksi atau industri berat, potensi kerugiannya sangat besar," tuturnya.
"Bukan hanya industri kita yang dirugikan, tetapi juga nyawa masyarakat menjadi taruhannya," tandasnya.
"Produk-produk baja yang tidak memenuhi SNI dapat menimbulkan risiko bagi proyek-proyek konstruksi, baik infrastruktur maupun bangunan publik, yang pada akhirnya mengancam keselamatan masyarakat,” ujar Iman kepada wartawan, Jumat, 1 November 2024.
Iman menambahkan bahwa produk baja murah ini tidak hanya merusak daya saing industri dalam negeri, tetapi juga meningkatkan risiko kegagalan struktural karena tidak memenuhi standar kualitas.
Selama berjalannya tahun 2024, lanjut legislator Partai Demokrat itu, impor baja dari China mengalami lonjakan signifikan. Produk ini terus masuk ke pasar Indonesia dengan harga murah karena over capacity di negara asal, namun kualitasnya jauh di bawah standar yang seharusnya.
"Bukan hanya industri kita yang dirugikan, tetapi juga nyawa masyarakat menjadi taruhannya," tandasnya.