rakyatsultra.id - Hasil quick count atau hitung cepat Pemilihan Umum (Pemilu) menempatkan Prabowo-Gibran sebagai pemenang Pilpres. Hasil itu, dinilai tak mempengaruhi nilai tukar rupiah.
“Pergerakan Rupiah dengan adanya gonjang ganjing hasil pemilihan quick count tampaknya tidak mengalami perubahan atau menguatan berarti,” kata Marzuki kepada fajar.co.id, Minggu (18/2/2024).
Ia mencontohkan. Pada Sabtu 17 Februari, rupiah memang menguat, tapi jumlahnya sangat tipis.
Baca Juga: Usai Pilpres, RI Peroleh Modal Asing Rp4 Triliun
“Berada pada level 15.620,00-15.673. Secara m.t.d, Rupiah menguat tipis 1,01% tetapi secara y.t.d, Rupiah melemah 1,45%,” ungkapnya.
Padahal, jelas Dosen Universitas Hasanuddin itu, mata uang di negara-negara tetangga menguat. Lebih dari pada rupiah.
“Tampaknya mayoritas volatilitas nilai tukar mata uang masing-masing di kawasan bergerak ada yang menguat, seperti: Ringgit Malaysia, Bhat, Peso, Dollar Taiwan. Sedang yang mengalami pelemahan, diantaranya Dolar Singapura, Yen, Yuan (LIBUR) Dolar Hong Kong,” jelasnya.
“Jadi perubahan nilai tukar Rupiah dapat dikatakan seperti biasanya saja, sesuai kekuatan pasar mata uang,” tambahnyaz
Begitu pula, kata dia, dengan pasar saham. Per 17 Februari, tidak ada perubahan signifikN dengan adanya quick count Pemilu 2024.
“IHSG ditutup pada level 7.335,55 atau menguat 0,44% terhadap penutupan hari sebelumnya yang berada pada level 7.303,28'' terangnya.
Nilai transaksi perdagangan, tercatat Rp15,71 triliun dengan volume transaksi mencapai 17,78 miliar lembar dan total frekuensi perdagangan 1.222.985 kali.
“Sebanyak 221 saham mengalami penguatan, 316 saham melemah, dan sebanyak 226 saham tidak berubah,” tandasnya. FJR/RS