“Bagi saya, media sosial bisa menjadi alat advokasi untuk menunjukkan kepada publik bagaimana pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab guru saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab orang tua, pemerintah, dan masyarakat. Sebagai contoh, saya sering mengajak siswa-siswi di kelas untuk berpikir kritis tentang isu-isu umum seperti kekerasan ataupun hak masyarakat adat,” ujar Galih.