"Kami berusaha mengatasi masalah learning loss dan kemampuan yang rendah dari sisi PISA dengan memperbaikinya dari hulunya, dari bagaimana guru itu mengajar," kata Mu'ti.
Ia juga menyoroti masalah learning poverty, yakni kondisi anak usia 10 tahun yang belum mampu membaca dan memahami teks sederhana.
"Ada istilah itu learning poverty. Yang kita coba perbaiki dari hulunya, dari bagaimana guru itu mengajar," ucapnya.
4. Penguatan Pendidikan Karakter
Mu'ti juga menekankan pentingnya pendidikan karakter sejak dini.
Beberapa program unggulan yang dijalankan antara lain Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH), Senam Anak Indonesia Hebat, hingga Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib.
"Dan program-program yang berkaitan dengan bagaimana peningkatan karakter melalui berbagai program, misalnya pramuka sebagai ekstra kurikuler wajib, dan juga mendorong para murid untuk aktif dalam berbagai kegiatan kepemimpinan," jelasnya.
5. Program Wajib Belajar 13 Tahun, Dimulai dari TK
Langkah terakhir adalah wajib belajar 13 tahun, dimulai dari Taman Kanak-Kanak (TK). Kementerian menargetkan setiap desa memiliki minimal satu TK.
"Target kami satu desa satu TK. Anak-anak yang punya pengalaman pendidikan di TK terbukti lebih siap secara karakter dan akademik," ujarnya.
Mu'ti menjelaskan, penelitian menunjukkan anak yang mengenyam pendidikan TK memiliki kemampuan akademik dan kepercayaan diri lebih tinggi.
"Yang dengan itu kami berharap agar semua anak TK ini dapat belajar karena banyak penelitian menunjukkan bahwa learning sustainability dan juga kepribadian rasa percaya diri anak-anak yang punya pengalaman pendidikan di TK itu lebih baik dari mereka yang tidak punya pengalaman," ungkapnya.
Dengan lima langkah besar tersebut, Abdul Mu'ti menegaskan bahwa transformasi pendidikan Indonesia bukan sekadar jargon, melainkan upaya nyata agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan maju.