Kendari,Rakyatsultra.id – Dalam upaya memerangi penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) khususnya di lingkungan pendidikan, Dosen Jurusan Biologi, Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Halu Oleo (UHO) melaksanakan pelatihan/workshop kepada para guru SD Se-Kecamatan Poasia agar menjadi garda terdepan dalam memerangi penyakit DBD di sekolah.
Kegiatan tersebut melibatkan 26 guru dari 8 SD di Kecamatan Poasia, Kota Kendari yang berlangsung seharian penuh pada 19 Oktober 2024 yang diprakarsai Dr. Hj. Sitti Wirdhana Ahmad Bakkareng, S.Si., M.Si. yang merupakan Ketua Jurusan Biologi FMIPA UHO.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UHO, Dr. Hj. Sitti Wirdhana Ahmad Bakkareng, S.Si., M.Si. menerangkan, dalam kegitan tersebut para guru dilatih secara langsung untuk mengenali habitat nyamuk Aedes aegypti serta merancang, membuat dan memasang alat perangkap telur nyamuk (ovitrap) dan perangkap jentik nyamuk (larvitrap) dengan memanfaatkan barang-barang bekas (botol plastik) di lingkungan sekitarnya. Ovitrap memiliki sifat sensitif, cepat dan ekonomis untuk mengamati keberadaan aedes aegypti. Sensitivitas ovitrap cukup tinggi meskipun kepadatan vektor berada pada tingkat yang rendah.
“Sementara itu, larvitrap merupakan metode pengendalian vektor DBD yang lebih aman, yaitu melalui pemutusan siklus hidup nyamuk Aedes aegypti pradewasa (telur dan jentik/larva). Hasil uji preferensi menunjukkan bahwa 72,0% larvitrap berhasil menjebak jentik nyamuk Aedes sp. Prinsip kerja alat ini yaitu sebagai perangkap larva dengan membuat breading place Aedes aegypti untuk bertelur, setelah telur menetas menjadi larva, larvitrap menjebak jentik sehingga jentik terperangkap dan mati. Kedua teknik antara ovitrap dan survei larva ini dapat saling melengkapi dalam kegiatan deteksi dan pengamatan nyamuk vektor,” ujarnya.
Ia menerangkan, salah satu poin penting yang ditekankan dalam pelatihan adalah pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Para guru diajarkan cara-cara sederhana namun efektif untuk menghilangkan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk, seperti menguras bak mandi secara teratur, menutup rapat tempat penampungan air, dan menanam tanaman pengusir nyamuk. Lingkungan sekolah yang bersih adalah kunci utama dalam mencegah DBD, dengan melibatkan para guru, kami berharap mereka dapat menularkan semangat hidup bersih kepada siswa-siswa dan masyarakat sekitar.
“Kami berharap para guru dapat menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing. Berbekal pengetahuan yang mereka miliki, mereka dapat mengajak siswa, orang tua, dan masyarakat sekitar untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
Jurusan Biologi FMIPA UHO berkomitmen untuk terus memberikan kontribusi bagi masyarakat melalui kegiatan pengabdian seperti ini. Ke depan, diharapkan semakin banyak kegiatan serupa yang dapat dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tegas Ketua Tim Pengabdian Masyarakat ini.
Berbekal ilmu pengetahuan yang didapat dari pelatihan/workshop yang diselenggarakan oleh Dosen Jurusan Biologi FMIPA UHO, mereka siap menjadi garda terdepan dalam mencegah penyebaran penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti ini.
Sementara itu, salah satu peserta pelatihan, Ibu Citrayani, S.Pd. mengungkapkan rasa terima kasihnya atas penyelenggaraan workshop tersebut. Ia sangat terkesan dengan kedalaman materi yang disampaikan. Dulu, dirnya hanya tahu bahwa DBD ditularkan melalui nyamuk.
“Sekarang, kami mengerti bagaimana cara memutus mata rantai penularannya. Ini sangat berharga bagi kami. Workshop ini sangat bermanfaat bagi kami. Ilmu yang kami dapatkan akan kami sebarkan kepada siswa-siswa dan masyarakat sekitar," ujarnya.
Untuk memastikan keberlanjutan program ini, Tim penyelenggara telah merencanakan beberapa kegiatan tindak lanjut, antara lain, pembentukan kelompok kerja di setiap sekolah untuk memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program pencegahan DBD. Kedua, melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah DBD. Ketiga membangun kerjasama dengan puskesmas, dinas kesehatan, dan instansi terkait lainnya untuk mendukung program ini. CR5