KENDARI, rakyatsultra.id - Sebagai upaya dalam meminimalkan kekerasan atau bullying, Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 4 Kendari melaksanakan deklarasi antibullying dan kekerasan di lingkungan sekolah yang didukung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sulawesi Tenggara (Sultra), Selasa (7/11).
Kepala Dikbud Sultra Yusmin SPd MH sangat mengapresiasi para guru dan siswa di SMA Negeri 4 Kendari yang terus berupaya melakukan upaya pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah dengan melaksanakan deklarasi stop bullying dan kekerasan.
"Dengan penggelaran karya tersebut menunjukkan bahwa SMAN 4 Kendari sudah mulai sadar bawah bullying atau kekerasan apapun tidak boleh lagi terjadi. Sebagai Kadis Dikbud Sultra saya sangat bangga akan pelaksanaan pegelaran karya tersebut yang merupakan karya anak-anak bangsa," tuturnya.
Ia juga mengatakan, dengan pegelaran karya dalam upaya pencegahan bullying di lingkungan sekolah, akan muncul kegotongroyongan antar sesama anak-anak dan tidak ada perbedaan agama, suku dan bahasa, sehingga para siswa betul-betul bisa merajut kebhinekaan. Untuk itu, pihaknya memberikan apresiasi kepada guru-guru SMAN 4 Kendari khususnya panitia yang mulai medorong tenciptanya para siswa yang berprofil Pancasila.
Sambungnya, sekolah ramah anak perlu diterapkan karena sekolah menjadi tempat yang rentan terhadap bullying. Oleh karena itu pendidik harus bisa berperan untuk mencegah bullying, seperti perlu dapat menerapkan nilai-nilai persahabatan agar murid-murid dapat saling menghargai.
"Kita sudah menginstruksikan kepada seluruh sekolah untuk membuat tim anti kekerasan di setiap satuan pendidikan dengan melibatkan orang tua siswa, guru-guru dan semua pihak. Kemudian kami menegaskan kepada sekolah agar tidak memasukkan para guru dan orang tua yang pernah melakukan kekerasan di dalam tim dan alhamdulillah seluruh sekolah sudah membentuk tim di setiap sekolah terkait anti kekerasan," tuturnya.
Sementara itu, Kepala SMAN 4 Kendari Liyu menyampaikan, kegiatan tersebut bagian dari pelaksanaan kurikulum merdeka dengan ciri khas projek penguatan profil Pancasila. Dimana pada kesempatan tersebut salah satu tema yang diangkat adalah tentang bangunlah jiwanya bangunlah raganya yang berhubungan dengan kebhinekaan dan persatuan kepada kita semua.
Sambungnya, olehnya itu, pelaksanaan tersebut merupakan sebuah hal yang baik buat pelaksanaan kurikulum merdeka. Apa lagi disadarkan kepada semuanya anak-anak dengan harapan bisa mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari bahwa semuanya siswa adalah bersaudara dimanapun berada selalu bersama-sama dalam satu bingkai Indonesia.
"Deklarasi tersebut diikuti oleh seluruh siswa dan disaksikan orang tua siswa, komite maupun undangan dari seluruh kepala sekolah dengan total kita punya siswa 1.763 dan ini sekolah yang terbesar di Sultra untuk jumlah siswanya. Olehnya tidak boleh ada bullying yang ada di sekolah ini," tuturnya. ALP/RS