Melihat Sekolah yang Belum Tersentuh Sarana dan Prasarana
Siswa di pulau terpencil tak jauh berbeda dengan siswa di pegunungan. Mereka adalah siswa yang menimba ilmu di daerah terpencil, harus merasakan minim fasilitas pendidilkan.
Bersekolah di daerah yang kaya akan sumber daya alamnya yang melimpah, kabupaten Bombana, tidak menjamin nasib seluruh siswanya mendapatkan fasilitas pendidikan yang memadai. Seperti yang dirasakan anak-anak dari Desa Adat Hukaea Laea, Bombana.
Tidak ada pilihan lain, selain harus bersekolah di sebuah ruang sekolah berdindingkan kayu yang sebahagian sudah bocor dan berlantaikan tanah. Mereka harus tetap bertahan melanjutkan pendidikannya ditengah keterbatasan.
Kabupaten Bombana yang dikenal sebagai salah satu daerah pertambangan di Sultra justru masih ada sekolah yang kondisinya jauh dari kelayakan sebuah sekolah. Sekolah itu adalah SD 145 Watu-watu. Kondisi sekolah, guru, dan fasilitas belajar jauh dari layak.
Betapa tidak, untuk gedung sekolah dasar masih berdindingkan papan yang sudah bocor. Ruang kelasnya pun hanya berjumlah tiga bilik ruangan yang ditempati oleh enam kelas, dimana masing-masing ruangan digunakan oleh dua kelas.
"Ruang di sekolah ini terbatas, setiap satu ruangan digunakan dua kelas," ujar salah satu siswa kelas lima.
Tenaga pengajar yang mengabdi di sekolah tersebut digaji dengan menggunakan dana BOS yang diterima setiap triwulan. Sudah banyak guru yang mengabdi disekolah tersebut, namun karena dirasa tidak kuat bertahan mereka kemudian memilih keluar.
"Di SD pernah ada guru yang berstatus PNS yang mengabdi selama satu semester, kemudian minta pindah," ungkap Djalil Karuru S.Pd yang juga pernah mengabdi di sekolah tersebut.
Kendati sekolahnya memprihatinkan Erniawati yang juga siswa kelas enam SD 245 Watu-watu, sempat memaparkan cita-citanya yang besar kepada wartawan Rakyat Sultra saat berkunjung disekolah itu.
Cita-cita siswa kelas enam ini, kelak ingin menjadi guru dan mengabdi di sekolah tersebut.
Kondisi seruupa juga terjadi pada SMPS Laea yang juga masih tergolong terbelakang. Bahkan untuk belajar, pihak sekolah masih meminjam balai desa adat untuk dijadikan ruang belajar, serta menampung siswa mulai dari kelas satu hingga kelas tiga.
Djalil Karuru saat ditemui dirinya sedang mengajar siswa kelas I, II dan kelas III. Papan whiteboard itu dibagi menjadi tiga. Sebelah kiri, di bagian atasnya tertulis “Kelas I”, di bagian tengah "Kelas II", dan sebelah kanan “Kelas III”.
Usai menulis materi pelajaran bahasa Indonesia di kolom Kelas I, kemudian siswa disuruh menyalin, Djalil menulis materi pelajaran matematika untuk Kelas II, setelah itu kemudian dilanjutkan dengan belajar pendidikan kewarganegaraan untuk Kelas III.