Kendari, Rakyatsultra.id – Tim Penelitian Fundamental Reguler (PFR) dari Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari melaksanakan penelitian terkait perbaikan lahan sub optimal melalui penerapan pupuk organik. Kegiatan ini didanai melalui hibah BOPTN DPPM RI Tahun 2025 dan dipusatkan di Desa Sindang Kasih, Kecamatan Ranomeeto Barat, Kabupaten Konawe Selatan.
Penelitian yang diketuai Prof. Dr. Ir. H. La Karimuna, M.Sc.Agr., bersama anggota tim Dr. Zulfikar, S.P., M.P., Ir. Azhar Ansi, M.P., serta empat mahasiswa Jurusan Agroteknologi UHO, berfokus pada aplikasi bioteknologi konvensional pupuk organik padat (POP), pupuk organik cair (POC), dan pupuk organik nano (PON). Teknologi tersebut diterapkan pada komoditas jagung, kacang tanah, dan kedelai dalam pola tumpangsari.
Menurut Prof. Karimuna, inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesuburan tanah marginal yang selama ini dimanfaatkan secara intensif untuk sawah maupun tanaman palawija. “Penggunaan sumber daya lokal seperti komba-komba, gamal, pupuk kandang sapi dan ayam, dedak, gula aren, dengan bantuan EM4, diolah menjadi pupuk organik padat, cair, dan nano. Inovasi ini menjadi solusi kreatif untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah,” jelasnya.
Hasil penelitian tahun pertama menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pertumbuhan vegetatif dan hasil panen jagung, kacang tanah, dan kedelai. Selain itu, kualitas biji juga mengalami perbaikan, yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat akan pangan sehat dari sistem pertanian organik.
Masyarakat Desa Sindang Kasih, yang mayoritas merupakan transmigran asal Jawa Barat, sebelumnya telah berpengalaman dalam budidaya pertanian. Namun, pola penggunaan pupuk organik, khususnya pada sistem tumpangsari dengan metode jajar legowo, masih belum banyak dipraktikkan. Melalui penelitian ini, petani memperoleh pengetahuan baru tentang manfaat POP, POC, dan PON dalam meningkatkan produktivitas lahan.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Sindang Kasih yang berperan aktif dalam kelancaran kegiatan. Mereka menilai penelitian ini sangat relevan, mengingat lahan di wilayah tersebut didominasi tanah ultisol dengan kandungan bahan organik rendah. Kondisi tanah yang mudah tergenang saat hujan dan mengeras di musim kemarau semakin diperparah oleh penggunaan pupuk kimia dosis tinggi.
“Penelitian ini dirancang selama dua tahun. Tahun pertama (2025) difokuskan pada pengkajian status hara tanah awal dan pengaruh perlakuan pupuk organik terhadap pertumbuhan tanaman. Sementara tahun kedua (2026) akan diarahkan pada pengembangan perlakuan terbaik sebagai teknologi rekomendasi bagi petani,” ungkap Prof. Karimuna.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui program BOPTN DPPM atas dukungan pendanaan, serta kepada masyarakat dan pemerintah desa atas kerja sama yang baik. “Kami menyadari masih ada kekurangan dalam pelaksanaan tahun pertama, tetapi kami berharap hasil penelitian ini dapat memberi manfaat besar bagi kemajuan pertanian daerah,” pungkasnya. rs