Citizen Journalism
ADELIA ASWAD, Kendari
Panas matahari tidak menyurutkan langkah Jenio, seorang pemuda berusia 21 tahun, yang setiap hari berdiri di tengah padatnya lalu lintas di lampu merah (traffic light) Ranometo, batas antara Kota Kendari-Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Menggunakan kostum badut karakter tikus berwarna hitam dan merah, ia tersenyum ceria meski wajah aslinya tersembunyi di balik topeng besar berbahan busa itu.
Sejak Agustus 2024, Jenio telah menjalani rutinitas ini. Setiap pagi, seorang pria yang ia sebut sebagai "bos" mengantarnya ke lokasi. Dengan setia, ia menari, melambai, dan sesekali bercanda dengan pengendara yang menunggu lampu hijau. Sebuah pemandangan yang mungkin sekilas tampak ringan, namun menyimpan kisah perjuangan hidup seorang anak muda dengan cita-cita besar.
"Saya ingin jadi tentara," ungkap Jenio saat ditemui di sela waktu istirahatnya, sambil melepas kepala kostumnya yang membuatnya kepanasan. Dengan tatapan penuh harapan, ia menambahkan, "Tapi untuk sekarang, saya harus membantu keluarga dulu."
Jenio bukan tidak punya latar belakang pendidikan. Ia sudah menyelesaikan bangku sekolah menengah atas, namun keterbatasan biaya membuatnya menunda impian untuk melanjutkan kuliah atau mendaftar seleksi militer. "Biaya daftar tentara juga tidak murah. Saya harus menabung dulu," katanya dengan nada optimistis.
Tiap hari, dari pagi hingga sore, Jenio berdiri di bawah terik matahari dan sesekali diterpa hujan. Kostum tebal yang ia kenakan terasa seperti sauna berjalan, namun ia tetap tersenyum lebar di hadapan pengendara. Kadang, ia mendapatkan uang receh dari orang-orang yang simpati, kadang pula hanya senyuman kosong yang ia terima.
Di tengah suasana yang ramai, padatnya jalanan, Jenio membangun dunia kecilnya sendiri. Ia tahu bahwa tidak semua orang yang melihatnya benar-benar memahami beratnya beban yang ia pikul. Namun ia tidak peduli. "Asalkan orang yang melihat saya bisa terhibur, itu juga sudah cukup," katanya sambil tersenyum lelah.
Menggunakan celana merah longgar dan kaus hitam dengan huruf "M" besar di dada, penampilan Jenio kerap mengundang tawa anak-anak dan senyum orang dewasa. Tidak jarang, ada pengendara yang mengajaknya foto dadakan dari jendela mobil. Ia menyambut semua itu dengan ramah, meski di balik topeng, tubuhnya mulai letih.
"Saya tidak gengsi memilih bekerja di lampu merah sebagai badut, asalkan saya tetap menjaga keselamatan dan tidak mengganggu lalu lintas, dan mendapatkan uang yang halal," ujar Jenio, yang sambil tersenyum. Menurutnya, banyak anak muda lain yang memilih jalan serupa untuk menyambung hidup, dan ia merasa bangga kepada dirinya sendiri karena dia menjalani pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab.
Bekerja sebagai badut lampu merah memang bukan cita-cita mulia di mata sebagian orang. Namun bagi Jenio, ini adalah jalan yang ia tempuh dengan penuh kehormatan. Ia mengaku bangga bisa mandiri, tidak merepotkan orang tuanya yang kini hanya bekerja serabutan.
Setiap hari, sepulang dari lampu merah, Jenio menghitung recehannya dan sebagian besar langsung ia tabung. "Sedikit-sedikit, lama-lama bisa jadi modal daftar tentara," katanya penuh semangat. Meski penghasilannya tidak menentu kadang besar, kadang nyaris tidak ada dan semangatnya tidak pernah surut.
Dalam diam, Jenio bermimpi suatu hari mengenakan seragam loreng, berdiri tegak dengan hormat di hadapan merah putih. Ia ingin membuktikan bahwa anak muda dari pinggiran kota pun bisa mewujudkan mimpi besar, meski harus memulainya dari jalanan berdebu.
Ada banyak cerita di lampu merah Ranometo, namun kisah Jenio adalah salah satu yang paling menyentuh. Sebuah potret tentang keberanian menghadapi kerasnya hidup dengan tetap menggenggam mimpi dan mempertahankan harga diri.
Artikel Terkait
Wujudkan Konsel SETARA, Bupati Irham Kalenggo Fokuskan 100 Hari Kerja pada Visi