Jumat, 28 Agustus 2026

Fakultas Ilmu Sosial dan Bisnis UMW Kendari EDUKASI STOP BULLYING ke Siswa SD di Kota Kendari

Photo Author
Sitti Asnawati, Rakyat Sultra
- Kamis, 30 Januari 2025 | 13:59 WIB
 Foto bersama para siswa saat mengikuti edukasi stop bullying yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Bisnis UMW Kendari, di salah satu sekolah dasar di Kota Kendari.
Foto bersama para siswa saat mengikuti edukasi stop bullying yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Bisnis UMW Kendari, di salah satu sekolah dasar di Kota Kendari.

Kendari, Rakyatsutra.id – Maraknya kasus kekerasan di sekolah, yang menyasar siswa sekolah, dan juga tawuran antarpelajar, menjadi hal yang mendesak untuk dihilangkan, sebab hal itu akan membawa dampak negatif bagi siswa.

Tindakan bullying hingga tawuran yang terjadi pada siswa sekolah adalah bentuk-bentuk perilaku agresif dan kekerasan yang mungkin sudah lama terjadi di sekolah, tetapi luput dari perhatian atau bisa jadi hal itu tidak dianggap serius.

“Sehingga menyebabkan siswa yang mengalami perundungan menjadi malas bersekolah, karena merasa terancam dan takut,” demikian disampaikan Dr. Andi Asri yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Bisnis Universitas Mandala Waluya saat melakukan edukasi di salah SDN yang ada di Kota Kendari, baru-baru ini.

Sosiolog Universitas Mandala Waluya Kendari ini menuturkan, pelaku bullying tidak hanya datang dari siswa tetapi juga guru yang kebetulan adalah pendidik.

Berdasarkan data yang diperolehnya, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Sulawesi Tenggara terus terjadi. Sejak tahun 2024 hingga awal tahun 2025, sudah terjadi 251 kasus atau rata-rata terjadi 0,9 sehari.

Hal inilah yang mendorong fakultas yang dipimpinnya oleh sejumlah mahasiswa melaksanakan edukasi stop bullying ke sekolah-sekolah di Sulawesi Tenggara secara bertahap, dimulai dari Kota Kendari pada bulan Januari, selanjutnya ke kabupaten lain, seperti Konawe Selatan, Konawe, Kolaka, Kolaka Utara, Kolaka Timur, Buton Utara, Konawe Utara, Bau-Bau, Muna, Muna Barat, Wakatobi dan Buton.

Sementara itu, Rahman mahasiswa Psikologi UMW yang ikut dalam kegiatan tersebut menyampaikan, kekerasan fisik dan intimidasi psikologis lebih banyak terjadi dan secara global diperkirakan angkanya mencapai 16,1% yang dialami anak-anak. Intimidasi itu yang dilaporkan meliputi dipukul, ditendang, didorong, atau dikunci di sebuah ruangan.

Ada juga pelecehan seksual diangka 11,2% dialami anak-anak, dengan tindakan meluputi diejek dengan lelucon, komentar, atau gerak tubuh yang bersifat seksual.

Kata Rahman, Bullying sering kali ditandai dengan perasaan yang paling intens atau hiperaktif, karena orang yang tidak tahan lagi di-bully akan mengalami stres. Bullying yang dibiarkan akan menimbulkan dampak negatif bagi anak, yaitu masalah psikologis seperti gangguan depresi dan kecemasan, masalah fisik, misalnya memar atau cedera otak, penurunan performa.

Solusi yang efektif untuk mencegah terjadinya Bullying kata Andi Asri diantaranya menghadirkan program yang mengubah sistem sosial menjadi target perubahan dan tidak hanya berfokus pada perubahan individu, baik dari sudut pandang individu maupun yang tertindas.

“Pencegahan bullying harus dilakukan oleh semua pihak. Dimana mencegah masalah intimidasi tentu lebih penting daripada intervensi pasca-intimidasi,” tuturnya.

“Salah satu cara untuk melakukan pencegahan pada kasus bullying adalah memberikan pemahaman kepada anak tentang kasus bullying tersebut seperti apa. Salah satu rekomendasi untuk pencegahan bullying adalah siswa atau anak harus memahami kasus bullying, menghadapi bila mendapatkan kasus tersebut, serta mencegah anak yang akan melakukan bullying,” kata Munawir Akbar salah satu Dosen Agama UMW Kendari.

Sekolah atau lembaga masyarakat juga harus ikut berpartisipasi dalam memberikan pemahaman kepada anak terkait dengan kasus bullying tersebut, serta keterlibatan keluarga dalam pembinaan agama di rumah.

“Edukasi bullying diharapkannya dapat memberikan pembelajaran bagi anak agar dapat menjadi sarana mencegah kekerasan, mencegah anak melakukan aktivitas yang tidak benar, sehingga kami orang tua menjadi tenang,” kata orang tua siswa yang ditemui di sekolah. RLS/AGS

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sitti Asnawati

Tags

Terkini

Tim Gerak Jalan SMPN 1 Wantim Tampil Memukau

Kamis, 14 Agustus 2025 | 13:16 WIB

ATR/BPN Ungkap PT. MS Tak Pernah Ajukan HGU

Senin, 11 Agustus 2025 | 18:40 WIB

Wali Kota Janji Bakal Tertibkan Parkir di Baubau

Selasa, 29 Juli 2025 | 10:42 WIB

Terpopuler

X