KENDARI, RSONLINE - Preseden buruk bagi demokrasi sedang terjadi di Kabupaten Buton, munculnya pasangan Oemar Samsu Abdul Samiun-La Bakrie sebagai calon tunggal dinilai pengamat sebagai pertanda buruk bagi demokrasi, meski itu dibenarkan dan diatur dalam Undang-Undang.
Pengamat politik Sulawesi Tenggara (Sultra) Eka Suiab menilai munculnya calon tunggal di Buton merupakan kesalahan fatal yang dilakukan oleh partai politik, betapa tidak parpol yang diharapkan tempat pengkaderan dan penyiapan generasi kepemimpinan gagal memenuhi itu. Bahkan kata mantan anggota komisioner KPU Sultra, jati diri parpol tergadai dengan munculnya calon tunggal. Menurutnya, banyak putra daerah yang memiliki kualitas yang baik hanya saja partai terlalu mengejar kemenangan sehingga tidak mencoba memberi peluang kepada calon yang lainnya.
Partai saat ini cenderung memiliki sifat mengikuti pemerintah atau mengejar kemenangan tanpa memikirkan misi jangka panjang.
Apalagi kata ketua jurusan ilmu politik UHO, Umar yang tidak lain adalah incumbent muncul dengan kekuatan super body. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, dana yang memadai maka mengatur siapa lawannya pun bisa dia lakukan.
"Umar ini big bos punya kekuasaan, dana politik juga punya, bahkan memilih siapa yang akan menjadi pesaing bayangan terhadap dirinya nanti, dia mampu untuk melakukannya,"paparnya.
Akibatnya kata dia, rakyat disuguhkan demokrasi tanpa pilihan selain menerima sesuai yang dibenarkan mekanisme yang ada. Yang mengalami kerugian adalah masyarakat sebab demokrasi yang lahir untuk menawarkan tempat seleksi bagi rakyat dalam memilih pemimpin daerah tidak berlaku. (rs)